1 New Stage of Life

Kamis, 15 Oktober 2015
Terakhir kali paman bikin posting di sini, paman masih berstatus sebagai mahasiswa Universitas Diponegoro. Masih idealis, cita-citanya setinggi langit, naif bukan main.
3 Tahun lebih telah berlalu, pahit manis kehidupan telah paman rasakan, sementara penyesalan tak kunjung hilang. Penyesalan telah meninggalkan Undip, penyesalan atas sikap pragmatis paman yang begitu bodoh.
Tapi dalam masa 3 tahun lebih ini, telah datang pula saat-saat manis. Kehidupan yang layak di Jakarta, dan kesempatan bertualang ke beberapa kota.
Kegagalan dan keberhasilan silih berganti. Sekarang paman menganggur di rumah. Hiks :'(
Namun, tenang... paman belum putus asa, harapan masih ada..
Target paman : lulus S1 di usia 27/28 tahun, langsung ambil S2, riset riset dan riset, lanjut S3, kejar gelar Pofessor. Meraih cita-cita duniawi : FFC (Farm, Factory, and Classroom). Bismillah...

1 Blur

Rabu, 14 Desember 2011
   Alkisah, Tuhan menciptakan seorang manusia yang istimewa, sebut saja namanya Amin. Ketika dilahirkan, tak tampak sesuatu pun yang istimewa, ia seperti bayi lainnya. Semua tentang dirinya tampak normal pada masa balitanya. Keanehan mulai muncul ketika ia berusia 5 tahun, setelah ia tak lagi dimandikan oleh ibunya, dan waktu itu dia mulai ikut mengaji di mushalla selepas maghrib. Singkatnya, setelah dia mulai mengenal norma-norma kesusilaan, dia menjadi berbeda dengan orang lain. 
   Bermula ketika pada suatu saat, sepulang sekolah, ia lupa uluk salam dan langsung ke dapur mencari ibunya, yang ternyata tidak berada di sana, maka ia menuju ke kamar orangtuanya, dan segera setelah dia membuka pintu, dia menjerit. Waktu itu ibunya berada di kamar sedang mengganti baju, Amin melihatnya, dan menjerit karena yang dia lihat bukan sosok ibunya melainkan sebuah bayangan blur, buram, warna sawo matang dengan pulasan warna hitam di atasnya, dan lebih mengerikan lagi, ketika ibunya menengok, wajah ibunya ternyata seperti mosaik, kotak-kotak!!! Itulah keistimewaan Amin, ada sensor otomatis di otaknya, di lobus oksipitalnya. Semua yang tidak pantas ia lihat, dalam pandangannya menjadi buram. 
   Tidak, dia tidak maksum (bebas dari dosa) seperti nabi, tentu saja. Mulutnya masih bisa untuk mengejek kawannya, tangannya bisa untuk memukul; meskipun tidak ia lakukan.Keistimewaannya hanya sensor alami itu saja.
   Hatta, saat Amin mencapai usia remajanya, sekali waktu dia pernah belajar kelompok di rumah kawannya sekelas di SMP, rumah kawannya itu sepi, dia orang kaya dan punya VCD Player. Selesai mengerjakan tugas bersama, tanpa diduga, teman si Amin itu mengajak semua temannya menonton film di kamar, Amin pun dengan polosnya ikut saja. Film pun dimulai, judulnya "This is Not HULK, This is a Parody". 10 menit kemudian film menjadi buram penuh sensor (menurut pandangan Amin), dan cuma terdengar lenguhan-lenguhan yang tidak jelas.
   Begitulah. Maka hari berganti hari, Amin yang cerdas tumbuh dewasa, sekolahnya lancar, nilai-nilainya bagus, dan sensor alaminya masih berfungsi sangat baik, dan makin baik, sehingga alun-alun di waktu malam minggu, menurut Amin adalah tempat paling horror sedunia.
   Setelah lulus SMA, Amin kuliah di Fakultas Ekonomi, bidang studi ilmu ekonomi dan studi pembangunan, dan dia menjadi aktivis kampus. Singkat cerita ia lulus dengan predikat summa cumlaude. Dapat pekerjaan dengan mudah di kementrian keuangan, dan dipinang banyak parpol. Akhirnya ia terbujuk, masuk ke dalam salah satu parpol. Sebagai caleg, ia sukses berat. Rakyat mengirimnya ke Senayan. Jadilah ia anggota DPR. Dan karena skill nya di bidang ekonomi terbilang cemerlang, maka ia dengan mudahnya masuk Badan Anggaran.
   Namun malang, wahai kawan... Sebulan menjabat, ia di recall (dipanggil, lalu digantikan oleh kader lain) oleh partainya. Lho, apa lacur? 
   Ternyata ia didepak karena kerjanya tidak becus. Betapa tidak, tanda tangannya dibutuhkan untuk pengesahan anggaran, namun selalu saja ia tanda tangan di kop surat, lain waktu tabel anggaran ia tanda tangani, kemudian tengah-tengah lembar rincian anggaran ia stempel. Ia pun dianggap seperti orang linglung, sering menabrak pintu di gedung DPR, sering meraung-raung saat sidang. Pernah juga ia kencing di tengah ruang sidang paripurna, di depan Presiden!!!. Karena ia tak kunjung menemukan pintu keluar sidang.
   Amin sendiri ternyata bersyukur karena pemecatannya. Gedung DPR lebih horror ternyata, daripada alun-alun saat malam minggu.

0 Bisul

Selasa, 13 Desember 2011
Namanya Bambang Sulistyawan, tapi dalam percakapan di antara kami, mahasiswa, kami menyebutnya Pak Bisul. Tampaknya ia adalah seorang dosen di Fakultas Kedokteran. Dalam birokrasi Universitas, tampaknya dia bertugas memastikan bahwa tiap delegasi mahasiswa yang dikirim ke luar kampus untuk mengikuti berbagai kompetisi bergengsi dalam keadaan baik, siap mental, tahu sopan santun, dan akhirnya tidak memalukan. Tugasnya berlangsung bukan cuma pra acara, dia membimbing mahasiswa selama masa persiapan hingga saat berlangsungnya kegiatan, bahkan ketika perlombaan selesai, dia masih tampil, membesarkan hati yang kalah, dan mengucapkan selamat kepada yang berhasil, serta menyampaikan pesan-pesan lainnya. Agaknya ia telah cukup berpengalaman dalam bidang ini. Pertama kali paman bertemu dengannya kira-kira 2 minggu sebelum keberangkatan saya dan kawan-kawan ke Makassar guna mengikuti Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional, 18-23 Juli 2011. Pak Bisul ini pada dasarnya seorang yang baik dan ramah, tapi ketika simulasi presentasi, dan ia menjadi juri, siap-siaplah dicaci maki.
Dalam pada itu, paman mendapati, tugasnya begitu mengasyikkan. Saya kira cuma kali itu sajalah dia mendampingi mahasiswa, mengikuti ke mana kami pergi bertempur. Namun kemudian saya tahu, bahwa dia juga mendampingi delegasi mahasiswa yang berangkat ke Boston dalam acara HNMUN. Wow.. what a job! Bayangkan, dia selalu ikut ke mana mahasiswa pergi, tentu saja bukan pesiar, dia juga ikut berpikir, berusaha agar pulang membawa hasil; tapi bung, namanya toh tetap saja bepergian, melihat tempat-tempat baru, bahkan sampai ke luar negeri, tiap tahun tanpa diseleksi.
Coba katakan, seandainya anda yang memiliki pekerjaan macam itu, tidakkah anda senang? Sebelumnya kesampingkan dulu rasa lelah yang membayang, meninggalkan keluarga di rumah, dll. Fokus ke 'bepergian'. Senang kan? Iya kan? Tidak? Ah, masa...
Maka terbitlah suatu pertanyaan di benak paman, apa yang menyebabkan kita merasa senang ketika bepergian? Apakah karena melihat tempat-tempat yang belum pernah kita lihat? Ya lalu kenapa? itulah pertanyaannya. Atau mungkin yang menyenangkan adalah ketika kita membayangkan akan menceritakan kisah tentang perjalanan kita kepada mereka yang belum pernah kemana-mana, saat pulang nanti?
Entahlah.

3 Zaman

Seorang guru yang merasa bahwa generasi muda masa kini tak menaruh perhatian terhadap sastra domestik yang bermutu, suatu ketika berseru kepada sekalian murid :
"Siapa bisa menyerukan suatu kutipan dari karya sastrawan Indonesia terkemuka, kuganjar ia dengan hadiah setimpal!"
Sejanak hening. Lantas sekonyong-konyong berdirilah seorang murid di pojok kelas. Bertutur lantang,
Kalau mati, dengan berani; kalau hidup, dengan berani. Kalau keberanian tidak ada, itulah sebabnya setiap bangsa asing bisa jajah kita!! Pramoedya Ananta Toer.”
Wajah Sang Guru sumringah, "Kemarilah nak, Bapak tak segan-segan menghadiahi anak muda yang teringat kata-kata Pramoedya. Yang kau ucapkan tadi itu dalam betul maknanya. Inilah, di kantong Bapak cuma ada dua puluh ribu. Sini, ambil".
Si Murid masih berdiri, menggigit bibir bawahnya, lalu berkatalah ia,
"Apabila seseorang diupah karena apa yang ia ucapkan, adakah kita masih sezaman dengan saat orang ditangkap karena ucapannya?"
Sang Guru menatap mejanya, tangannya gemetar membalik halaman buku. Hatinya bersyukur. Uang dua puluh ribu itu sejatinya untuk beli makan!

0 Cacing

Jika anda menilai seorang hanya dari tampangnya, maka anda laksana cacing, yang indera penglihatannya hanya bisa membedakan terang dan gelap

0 Dermawan

Seperti benda yang panas, yang menyalurkan panasnya ke segala arah, seorang dermawan memberikan apa yang ia punya sehingga apa yang ia miliki sebanding dengan orang lain.
Dia tidak akan pernah kehabisan hartanya, ia tak akan jatuh miskin.
Sebagaimana suatu benda tidak akan kehilangan panasnya, dan anjlok ke suhu nol mutlak.

1 Sejarah

Senin, 05 Desember 2011
   10 tahun yang lalu, pertengahan tahun 2001, sebuah stasiun televisi swasta (RCTI atau SCTV, paman lupa) selama seminggu menampilkan serial dokumenter bertajuk 100 Tahun Bung Karno, acara tersebut ditayangkan setelah siaran berita petang, sekitar pukul 18.30. Paman tak pernah melewatkan tayangan spesial itu. Waktu itu paman tinggal di rumah kontrakan yang sekarang kami sebut 'Rumah Dasri' (pemilik rumah bernama Dasri). Televisi berada di ruang tamu yang sekaligus berfungsi sebagai ruang keluarga. Dan ketika penayangan '100 Tahun Bung Karno' itu, entah kenapa lampu ruangan tersebut selalu mati. Kemungkinan kabelnya putus. Paman tak ingat persis. Yang paman ingat cuma ruangan gelap, dan paman suka acara itu.
   Mungkin itulah awal ketertarikan paman kepada sejarah. Mengesankan sekali, mereka yang ada di layar televisi itu--sebagian besar telah mati--semua bergerak cepat, berbicara tanpa suara. Mereka seolah hidup lagi. Timbul kesadaran di benak paman, sebagaimana orang harus menghormati yang lebih tua, orang jaman sekarang pun harus menaruh perhatian pada peristiwa-peristiwa masa lampau. Saat itu paman ingat, paman bertanya pada Ibu, yang mengalami masa pemerintahan Presiden Soekarno, "Apakah jaman itu ngga ada warna bu?, semua hitam putih?" .Ibu tertawa. Paman ikut tertawa, tapi tak mengerti.
   Bersamaan dengan tumbuhnya minat baca paman, buku-buku sejarah tak terkecuali, paman lahap. Beberapa tahun kemudian, setelah televisi kami dibetulkan setelah antenanya tersambar petir, kami senang sekali karena banyak channel baru yang ditayangan si Toshiba. Metro TV salah satunya, yang sesekali menyiarkan tayangan import dari Discovery Channel dan History Channel. Luar Biasa!!!
   Sejarah itu, boi, salah satu produk peradaban kita yang paling elegan...
   Paman suka sejarah, tapi paman kurang bisa memahami mereka yang menjadikan sejarah sebagai profesi : Sejarawan. Bahkan mereka yang kuliah di jurusan sejarah. Paman sadar, bahwa buku-buku yang paman baca itu karangan sejarawan, narasumber History Channel itu sejarawan. Tapi perlukah mengkhususkan diri sebagai sejarawan?
   Entahlah.
   Pada tayangan '100 Tahun Bung Karno', sang tokoh utama, Ir. Soekarno, selalu berjas putih sewaktu muda. Setelah jadi presiden, jasnya gelap. Tapi paman tidak tahu warna aslinya, karena tayangan itu hitam-putih.
"Apakah jaman dulu tidak ada warna, bu ?"
Semua tertawa.