1 Blur

Rabu, 14 Desember 2011
   Alkisah, Tuhan menciptakan seorang manusia yang istimewa, sebut saja namanya Amin. Ketika dilahirkan, tak tampak sesuatu pun yang istimewa, ia seperti bayi lainnya. Semua tentang dirinya tampak normal pada masa balitanya. Keanehan mulai muncul ketika ia berusia 5 tahun, setelah ia tak lagi dimandikan oleh ibunya, dan waktu itu dia mulai ikut mengaji di mushalla selepas maghrib. Singkatnya, setelah dia mulai mengenal norma-norma kesusilaan, dia menjadi berbeda dengan orang lain. 
   Bermula ketika pada suatu saat, sepulang sekolah, ia lupa uluk salam dan langsung ke dapur mencari ibunya, yang ternyata tidak berada di sana, maka ia menuju ke kamar orangtuanya, dan segera setelah dia membuka pintu, dia menjerit. Waktu itu ibunya berada di kamar sedang mengganti baju, Amin melihatnya, dan menjerit karena yang dia lihat bukan sosok ibunya melainkan sebuah bayangan blur, buram, warna sawo matang dengan pulasan warna hitam di atasnya, dan lebih mengerikan lagi, ketika ibunya menengok, wajah ibunya ternyata seperti mosaik, kotak-kotak!!! Itulah keistimewaan Amin, ada sensor otomatis di otaknya, di lobus oksipitalnya. Semua yang tidak pantas ia lihat, dalam pandangannya menjadi buram. 
   Tidak, dia tidak maksum (bebas dari dosa) seperti nabi, tentu saja. Mulutnya masih bisa untuk mengejek kawannya, tangannya bisa untuk memukul; meskipun tidak ia lakukan.Keistimewaannya hanya sensor alami itu saja.
   Hatta, saat Amin mencapai usia remajanya, sekali waktu dia pernah belajar kelompok di rumah kawannya sekelas di SMP, rumah kawannya itu sepi, dia orang kaya dan punya VCD Player. Selesai mengerjakan tugas bersama, tanpa diduga, teman si Amin itu mengajak semua temannya menonton film di kamar, Amin pun dengan polosnya ikut saja. Film pun dimulai, judulnya "This is Not HULK, This is a Parody". 10 menit kemudian film menjadi buram penuh sensor (menurut pandangan Amin), dan cuma terdengar lenguhan-lenguhan yang tidak jelas.
   Begitulah. Maka hari berganti hari, Amin yang cerdas tumbuh dewasa, sekolahnya lancar, nilai-nilainya bagus, dan sensor alaminya masih berfungsi sangat baik, dan makin baik, sehingga alun-alun di waktu malam minggu, menurut Amin adalah tempat paling horror sedunia.
   Setelah lulus SMA, Amin kuliah di Fakultas Ekonomi, bidang studi ilmu ekonomi dan studi pembangunan, dan dia menjadi aktivis kampus. Singkat cerita ia lulus dengan predikat summa cumlaude. Dapat pekerjaan dengan mudah di kementrian keuangan, dan dipinang banyak parpol. Akhirnya ia terbujuk, masuk ke dalam salah satu parpol. Sebagai caleg, ia sukses berat. Rakyat mengirimnya ke Senayan. Jadilah ia anggota DPR. Dan karena skill nya di bidang ekonomi terbilang cemerlang, maka ia dengan mudahnya masuk Badan Anggaran.
   Namun malang, wahai kawan... Sebulan menjabat, ia di recall (dipanggil, lalu digantikan oleh kader lain) oleh partainya. Lho, apa lacur? 
   Ternyata ia didepak karena kerjanya tidak becus. Betapa tidak, tanda tangannya dibutuhkan untuk pengesahan anggaran, namun selalu saja ia tanda tangan di kop surat, lain waktu tabel anggaran ia tanda tangani, kemudian tengah-tengah lembar rincian anggaran ia stempel. Ia pun dianggap seperti orang linglung, sering menabrak pintu di gedung DPR, sering meraung-raung saat sidang. Pernah juga ia kencing di tengah ruang sidang paripurna, di depan Presiden!!!. Karena ia tak kunjung menemukan pintu keluar sidang.
   Amin sendiri ternyata bersyukur karena pemecatannya. Gedung DPR lebih horror ternyata, daripada alun-alun saat malam minggu.

0 Bisul

Selasa, 13 Desember 2011
Namanya Bambang Sulistyawan, tapi dalam percakapan di antara kami, mahasiswa, kami menyebutnya Pak Bisul. Tampaknya ia adalah seorang dosen di Fakultas Kedokteran. Dalam birokrasi Universitas, tampaknya dia bertugas memastikan bahwa tiap delegasi mahasiswa yang dikirim ke luar kampus untuk mengikuti berbagai kompetisi bergengsi dalam keadaan baik, siap mental, tahu sopan santun, dan akhirnya tidak memalukan. Tugasnya berlangsung bukan cuma pra acara, dia membimbing mahasiswa selama masa persiapan hingga saat berlangsungnya kegiatan, bahkan ketika perlombaan selesai, dia masih tampil, membesarkan hati yang kalah, dan mengucapkan selamat kepada yang berhasil, serta menyampaikan pesan-pesan lainnya. Agaknya ia telah cukup berpengalaman dalam bidang ini. Pertama kali paman bertemu dengannya kira-kira 2 minggu sebelum keberangkatan saya dan kawan-kawan ke Makassar guna mengikuti Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional, 18-23 Juli 2011. Pak Bisul ini pada dasarnya seorang yang baik dan ramah, tapi ketika simulasi presentasi, dan ia menjadi juri, siap-siaplah dicaci maki.
Dalam pada itu, paman mendapati, tugasnya begitu mengasyikkan. Saya kira cuma kali itu sajalah dia mendampingi mahasiswa, mengikuti ke mana kami pergi bertempur. Namun kemudian saya tahu, bahwa dia juga mendampingi delegasi mahasiswa yang berangkat ke Boston dalam acara HNMUN. Wow.. what a job! Bayangkan, dia selalu ikut ke mana mahasiswa pergi, tentu saja bukan pesiar, dia juga ikut berpikir, berusaha agar pulang membawa hasil; tapi bung, namanya toh tetap saja bepergian, melihat tempat-tempat baru, bahkan sampai ke luar negeri, tiap tahun tanpa diseleksi.
Coba katakan, seandainya anda yang memiliki pekerjaan macam itu, tidakkah anda senang? Sebelumnya kesampingkan dulu rasa lelah yang membayang, meninggalkan keluarga di rumah, dll. Fokus ke 'bepergian'. Senang kan? Iya kan? Tidak? Ah, masa...
Maka terbitlah suatu pertanyaan di benak paman, apa yang menyebabkan kita merasa senang ketika bepergian? Apakah karena melihat tempat-tempat yang belum pernah kita lihat? Ya lalu kenapa? itulah pertanyaannya. Atau mungkin yang menyenangkan adalah ketika kita membayangkan akan menceritakan kisah tentang perjalanan kita kepada mereka yang belum pernah kemana-mana, saat pulang nanti?
Entahlah.

3 Zaman

Seorang guru yang merasa bahwa generasi muda masa kini tak menaruh perhatian terhadap sastra domestik yang bermutu, suatu ketika berseru kepada sekalian murid :
"Siapa bisa menyerukan suatu kutipan dari karya sastrawan Indonesia terkemuka, kuganjar ia dengan hadiah setimpal!"
Sejanak hening. Lantas sekonyong-konyong berdirilah seorang murid di pojok kelas. Bertutur lantang,
Kalau mati, dengan berani; kalau hidup, dengan berani. Kalau keberanian tidak ada, itulah sebabnya setiap bangsa asing bisa jajah kita!! Pramoedya Ananta Toer.”
Wajah Sang Guru sumringah, "Kemarilah nak, Bapak tak segan-segan menghadiahi anak muda yang teringat kata-kata Pramoedya. Yang kau ucapkan tadi itu dalam betul maknanya. Inilah, di kantong Bapak cuma ada dua puluh ribu. Sini, ambil".
Si Murid masih berdiri, menggigit bibir bawahnya, lalu berkatalah ia,
"Apabila seseorang diupah karena apa yang ia ucapkan, adakah kita masih sezaman dengan saat orang ditangkap karena ucapannya?"
Sang Guru menatap mejanya, tangannya gemetar membalik halaman buku. Hatinya bersyukur. Uang dua puluh ribu itu sejatinya untuk beli makan!

0 Cacing

Jika anda menilai seorang hanya dari tampangnya, maka anda laksana cacing, yang indera penglihatannya hanya bisa membedakan terang dan gelap

0 Dermawan

Seperti benda yang panas, yang menyalurkan panasnya ke segala arah, seorang dermawan memberikan apa yang ia punya sehingga apa yang ia miliki sebanding dengan orang lain.
Dia tidak akan pernah kehabisan hartanya, ia tak akan jatuh miskin.
Sebagaimana suatu benda tidak akan kehilangan panasnya, dan anjlok ke suhu nol mutlak.

1 Sejarah

Senin, 05 Desember 2011
   10 tahun yang lalu, pertengahan tahun 2001, sebuah stasiun televisi swasta (RCTI atau SCTV, paman lupa) selama seminggu menampilkan serial dokumenter bertajuk 100 Tahun Bung Karno, acara tersebut ditayangkan setelah siaran berita petang, sekitar pukul 18.30. Paman tak pernah melewatkan tayangan spesial itu. Waktu itu paman tinggal di rumah kontrakan yang sekarang kami sebut 'Rumah Dasri' (pemilik rumah bernama Dasri). Televisi berada di ruang tamu yang sekaligus berfungsi sebagai ruang keluarga. Dan ketika penayangan '100 Tahun Bung Karno' itu, entah kenapa lampu ruangan tersebut selalu mati. Kemungkinan kabelnya putus. Paman tak ingat persis. Yang paman ingat cuma ruangan gelap, dan paman suka acara itu.
   Mungkin itulah awal ketertarikan paman kepada sejarah. Mengesankan sekali, mereka yang ada di layar televisi itu--sebagian besar telah mati--semua bergerak cepat, berbicara tanpa suara. Mereka seolah hidup lagi. Timbul kesadaran di benak paman, sebagaimana orang harus menghormati yang lebih tua, orang jaman sekarang pun harus menaruh perhatian pada peristiwa-peristiwa masa lampau. Saat itu paman ingat, paman bertanya pada Ibu, yang mengalami masa pemerintahan Presiden Soekarno, "Apakah jaman itu ngga ada warna bu?, semua hitam putih?" .Ibu tertawa. Paman ikut tertawa, tapi tak mengerti.
   Bersamaan dengan tumbuhnya minat baca paman, buku-buku sejarah tak terkecuali, paman lahap. Beberapa tahun kemudian, setelah televisi kami dibetulkan setelah antenanya tersambar petir, kami senang sekali karena banyak channel baru yang ditayangan si Toshiba. Metro TV salah satunya, yang sesekali menyiarkan tayangan import dari Discovery Channel dan History Channel. Luar Biasa!!!
   Sejarah itu, boi, salah satu produk peradaban kita yang paling elegan...
   Paman suka sejarah, tapi paman kurang bisa memahami mereka yang menjadikan sejarah sebagai profesi : Sejarawan. Bahkan mereka yang kuliah di jurusan sejarah. Paman sadar, bahwa buku-buku yang paman baca itu karangan sejarawan, narasumber History Channel itu sejarawan. Tapi perlukah mengkhususkan diri sebagai sejarawan?
   Entahlah.
   Pada tayangan '100 Tahun Bung Karno', sang tokoh utama, Ir. Soekarno, selalu berjas putih sewaktu muda. Setelah jadi presiden, jasnya gelap. Tapi paman tidak tahu warna aslinya, karena tayangan itu hitam-putih.
"Apakah jaman dulu tidak ada warna, bu ?"
Semua tertawa.

2 Akihito

Bayangin deh, pagi-pagi saat kamu menggeliat di tempat tidur, tanganmu menyenggol seseorang di sebelahmu. Pasti kamu kaget. Dan kamu bakalan lebih kaget, kalo saat kamu ngeliat mukanya, ternyata dia Akihito... Kaisar Jepang. Pasti kamu garuk-garuk kepala sambil mikir, 'Kenapa dia bisa ada di sini?'...
Kaisar Akihito

0 Tawaran Terakhir

"DATANG dan pekerjakan aku," teriakku, sementara pagi hari aku berjalan di atas jalan berdebu.
Dengan pedang di tangan, Raja datang dengan kereta perang.
Dia menggenggam tanganku dan berkata, "Aku akan menyewamu dengan kekuasaanku."
Tetapi kekuasaan tidak berarti apa-apa, dan dia pergi bersama kereta perangnya.

Di siang bolong, rumah-rumah berdiri dengan pintu terkunci.
Aku menyusur di atas jalan yang menikung.
Lalu seorang lelaki tua datang dengan kantong penuh emas.
Dia tertegun, lalu berkata, "Aku akan menyewamu dengan uangku."
Dia menghitung keping demi keping, tetapi aku berpaling.

Petang datang. Pinggiran kebun penuh bunga bermekaran.
Pelayan cantik datang dan berkata, "Aku akan mempekerjakanmu dengan senyumku."
Senyumnya pucat dan meleleh dalam air mata, dan dia berlalu sendiri dalam gelap.

Matahari memapar pasir, gelombang laut membabibuta.
Seorang anak sedang bermain dengan kerang.
Dia mengangkat tangan dan tampaknya mengenalku, lalu berkata,
"Aku mengupahmu tidak dengan apa-apa."
Itulah penawaran akhir yang terkandung dalam permainan anak-anak, yang membuatku menjadi manusia merdeka.

-Rabindranath Tagore-

0 Ketika Bulan Jatuh (Part II)

Minggu, 04 Desember 2011
Oke, ngelanjutin resensi kemarin...
Singkat aja ya...
...
Maka, seperti yang dikehendaki pemerintah, masyarakat tetap tenang. Bahkan ketika malam Bulan purnama, dan Bulan tampak lebih besar dari biasanya, alih-alih ketakutan, orang-orang justru senang dan berharap Bulan selamanya tampak sebesar itu.
Akhirnya setelah bunker-bunker selesai dibangun, melalui gereja, masyarakat diberitahu apa yang sebenarnya akan terjadi. Maka gemparlah dimana-mana. Di sisi lain, Edgar Hopkins merasa lega karena tidak lagi menyimpan rahasia--sekarang ia bisa bercerita dan bertukar pikiran dengan orang-orang mengenai bencana yang diramalkan akan terjadi itu.
Hari berganti hari, tibalah hari yang menurut kalkulasi para ahli Bulan akan pecah dan jatuh pada hari itu. 3 Mei, jam 8 malam. Sejak pagi orang-orang bersiap untuk masuk ke bunker perlindungan. Namun Hopkins berniat akan tinggal di rumahnya sendiri, apapun yang akan terjadi. Dia merasa senang karena ternyata bukan dia sendiri yang ingin tinggal di rumah. Di sebuah bukit yang lain berseberangan dengan bukitnya. Ada seorang temannya bersama 2 keponakannya yang berprinsip 'hidup mati di rumah sendiri'.
Tepat seperti yang diramalkan, malam harinya langit gelap gulita. Dan badai pun datang menyerang. Melalui kaca jendelanya, Hopkins menyaksikan sendiri udara menyala merah (pamanbuaya : karena debu Bulan terjadi efek Tyndall, disinari matahari dari kejauhan) dan segala sesuatu diterbangkan oleh amukan badai, termasuk peternakannya sendiri! (diceritakan bahwa badai datang dari timur, dan rumah Hopkins terhalang puncak bukit, karena rumahnya di sebelah barat puncak).
Beberapa saat kemudian badai mereda. Sesuatu yang mengerikan terjadi, jendela rumahnya pecah, dan pecahannya berhamburan ke arah luar! kertas-kertas pun beterbangan keluar. Lalu dia teringat apa yang diramalkan seorang pakar : ada kemungkinan setelah badai, atmosfir (udara) akan terlepas dari bumi untuk beberapa waktu. Tak lama kemudian Hopkins kesulitan bernafas, kedua telinganya mengeluarkan darah. Beruntung dia berhasil masuk ke perpustakaannya yang didesain serapat mungkin agar kedap suara, yang artinya kedap udara pula. Lalu keadaan kembali normal.

Bersambung, besok dilanjutinn. (ceritanya emang panjang sob!)

2 Ketika Bulan Jatuh (Part I)

Setelah paman resign dari universitas konvensional, paman mendapat banyak kesempatan untuk membaca buku-buku yang paman sukai. Tapi paman masih mengikuti kebiasaan lama ketika mendekam di perpustakaan, dan dalam hal meminjam buku; hari Senin-Kamis buku-buku serius (filsafat, politik, ekonomi, sastra lama, dll.), koran n majalah (tak lupa majalah 'Penjebar Semangat'); dan hari Jum'at paman biasa meminjam buku untuk bekal weekend (meskipun sekarang weekend atau tidak, sama saja). Biasanya yang paman pinjam di hari Jum'at adalah novel, antologi puisi, buku sejarah, atau kumpulan esai Goenawan Mohamad (yang belum juga selesai paman baca).
   Nah, Jum'at pekan lalu dalam rangka mengembangkan kemampuan berbahasa Inggris, paman memilih novel terbitan Longman, yang bahasanya sudah disederhanakan dengan glosarium yang lengkap pula (cocok buat yang sedang beralih dari intermediate ke advanced), dan buku biografi Haji Agus Salim yang dari buku tersebut, telah paman post kan sebuah artikel, pada Senin 20 November.

   Baik, Novel berbahasa Inggris yang paman pinjam berjudul The Hopkins Manuscript karangan R.C. Sherriff, penerbit Longman--London, tahun 1962. Sebenernya paman asal pinjem aja boi, tapi paman baca ternyata menarik juga, jadi sekarang setelah selesai paman baca, paman tuliskan resensinya. Novel ini bergenre fiksi ilmiah (science fiction).
   Novel dengan sudut pandang orang-pertama ini bercerita tentang seorang Inggris bernama Edgar Hopkins, seorang bujangan tua, berpendidikan, kaya, punya peternakan, dan dia tinggal di atas bukit di desa Beadle, Inggris. Hopkins ini tiap hari kerjanya cuma nengokin peternakannya, ngobrol sama orang-orang di desa, makan malam sama temennya, main kartu, dan kadang-kadang ikut pameran hewan ternak. Pokoknya santai banget. Sampai pada suatu hari dia bergabung dengan British Lunar Society, perkumpulan ilmiah yang anggotanya adalah orang yang tertarik atau suka dengan Bulan. Dia bergabung setelah melihat bulan dengan teleskop tetangganya, dan dia langsung berminat.
   Nah, beberapa waktu kemudian,beberapa dia meyaksikan sebuah fenomena aneh di langit saat sore hari, di atas sana dia melihat ada bercak berwarna merah kecoklatan seperti karat besi, dan bercak itu cukup besar, setiap kali dia muncul kemudain hilang lagi, begitu seterusnya. Tapi hanya sedikit orang yang menyadarinya.
    Lantas datanglah kepadanya sebuah undangan dari British Lunar Society untuk menghadiri sebuah pertemuan yang sifatnya rahasia, maka dia pun datang. Di pertemuan itu setelah beberapa kali menegaskan tentang kerahasiaan informasi yang akan disampaikan, akhirnya sang ketua menyampaikan sesuatu yang mengejutkan : Bulan, satelit kita itu, telah melenceng dari garis orbitnya, dan sekarang bergerak spiral mendekati Bumi, dan diprediksikan, beberapa bulan lagi akan 'jatuh'. Namun menurut seorang ahli dalam perkumpulan itu, bulan tidak akan jatuh dalam ukurannya yang sekarang, melainkan akan pecah menjadi miliaran keping ketika telah terlalu dekat dengan Bumi (pamanbuaya : ini karena gaya sentrifugal akibat gerak revolusi Bulan lebih besar daripada gaya tarik Bumi dan Bulan, atau sama besar). Manusia tidak kuasa menghentikannya. Dan agar untuk mempertahankan agar masyarakat tidak panik dalam jangka waktu selama mungkin (sebab akhirnya orang akan tahu), maka informasi ini harus dirahasiakan sampai bunker-bunker perlindungan telah selesai dibuat. 

Bersambung, besok dilanjutinn....

4 Sebuah Surat dari Kartini

Senin, 28 November 2011

Tahun 1903, kalangan intelektual dan pemerintah Hindia Belanda gempar, disebabkan berita mengenai seorang inlander (pribumi); pemuda Minangkabau (dibesarkan di Riau) yang bersekolah di HBS (Hogere Burger School) Batavia; bernama Agus Salim. Dia lulus dengan nilai terbaik di seluruh Hindia Belanda (waktu itu ada 3 HBS di Hindia Belanda). Bukan saja untuk satu bidang studi, nilai-nilainya untuk bidang Ilmu Sosial, Ilmu Pasti, bahkan bahasa Belanda, terbaik di seluruh Nusantara. Sayangnya dia berasal dari keluarga dengan keadaan finansial pas-pasan.

   Kabar tentang anak jenius berusia 19 tahun ini dengan cepat menyebar, dan terdengar juga oleh Raden Ajeng Kartini, putri bangsawan asal Jepara. Hatinya begitu tersentuh. Dia kemudian menulis surat untuk kepada temannya, Ny. Abendanon, istri pejabat tinggi pemerintah Hindia Belanda bidang pendidikan. Waktu itu Kartini berusia 24 tahun, dan Agus Salim 19 tahun. Demikian bunyi suratnya, paman kutip dari buku "100 Tahun Haji Agus Salim", terbitan Sinar Harapan, 1984.
Mari kita simak...



24 Juli 1903

Saya punya permohonan yang penting sekali untuk Nyonya, tapi sesungguhnya permohonan itu ditujukan kepada Tuan (Abendanon). Maukah Nyonya meneruskannya kepadanya?
    Kami tertarik sekali kepada seorang anak muda, kami ingin melihat dia dikaruniai bahagia. Anak muda itu namanya Salim, dia orang Sumatra asal Riau, yang dalam tahun ini mengikuti ujian penghabisan sekolah menengah HBS, dan ia keluar sebagai juara. Juara pertama dari ketiga-tiga HBS!
   Anak muda itu ingin sekali pergi ke Negri Belanda untuk belajar menjadi dokter. Sayang sekali, keuangannya tidak memungkinkan. Gaji ayahnya cuma F 150,- sebulan.
    Jika dikehendaki , rasanya mau dia bekerja sebagai kelasi di kapal, asal saja boleh ia berlayar ke Negeri Belanda.
    Tanyalah pada Hasim tentang anak muda itu. Hasim kenal dia; pernah mendengar anak muda itu bicara di Stovia . Nampaknya dia seorang pemuda yang hebat yang pantas diberi bantuan.
    Ketika kami mendengar tentang dia dan cita-citanya, muncul keinginan yang tak terbendung untuk melakukan sesuatu yang dapat meringankan bebannya. Teringat kami pada SK Gubernemen tertanggal 7 Juli 1903--SK yang begitu didambakan sebelumnya tapi kemudian, ketika kami terima, dipandang dengan rasa pilu yang menyayat hati.
     Apakah hasil usaha sahabat-sahabat yang mulia, buah harapan dan doa kami akan hilang lenyap saja, tak terpakai?
    Apakah tak mungkin orang lain menikmati manfaatnya ? Gubernemen menyediakan untuk kami berdua sejumlah uang sebesar 4800 gulden guna penyelesaian pendidikan kami. Apakah tidak bisa uang itu dipindahkan kepada orang lain yang juga perlu dibantu, mungkin lebih banyak kepentingan daripada kami ! Alangkah indahnya andai pemerintah bersedia membiayai seluruh pendidikannya yang berjumlah kira-kira 8000 gulden. Bila tak mungkin, kami akan berterimakasih, seandainya Salim dapat menerima jumlah 4800 gulden yang disediakan untuk kami itu. Untuk sisa kurangnya kami dapat meminta bantuan orang lain.
    Ah, biarkan dia menikmati kesenangan itu, kesenangan yang sudah lama kami dambakan, tapi yang kini diraih lepas dari jangkauan kami.
    Berikanlah kami rasa bahagia dengan membahagiakan orang lain yang mempunyai keinginan-keinginan, perasaan-perasaan, dan cita-cita yang sama dengan kami.
    Kami tahu apa artinya merasakan sesuatu hidup dalam sukma, kami mengerti betapa pemuda Salim mengandung hasrat yang membara dalam dada.
    Wahai, jangan biarkan jiwa hidup yang muda serta indah itu mati di kuncup! Jangan biarkan tenaga yang segar hilang percuma! Ia harus dirawat dan didayagunakan sebaik mungkin untuk kebajikan rakyat yang begitu gandrung pada tenaga-tenaga yang langka ini!
   Banyak sekali yang dapat dilakukan oleh Salim sebagai dokter untuk rakyatnya. Dan sesungguhnyalah, adalah idaman Salim untuk bekerja untuk rakyat kita!
    Permohonan kami ini agak aneh, kami sadar akan hal itu, tapi kami akan memuji syukur, jika ia dapat dipenuhi! Ibu, perjuangan yang berbulan-bulan, bertahun-tahun lamanya, tidak akan sia-sia dalam pandangan kami!
    Berikanlah kami rasa mujur yang nikmat, yaitu menyaksikan buah perjuangan dan penderitaan kami, tegasnya terwujudnya cita-cita Salim, selagi hayat masih dikandung badan.
   Salim sendiri tidak tahu apa-apa; ia tidak tahu eksistensi kami malah. Yang diketahuinya hanyalah bahwa dengan sepenuh hati ingin ia menyelesaikan pelajarannya, agar kemudian dapat bekerja untuk rakyatnya. Dan ia juga sadar bahwa itu suatu idaman mustahil, karena ia tak mempunyai dana.
    Kita hidup, kita berharap, dan kita berdoa untuk pemuda Salim!


   Nah, paman beritahu, 17 hari sebelum menulis surat di atas, R.A. Kartini baru saja mendapat besluit atau Surat Keputusan yang menyatakan bahwa Gubernemen (pemerintah) bersedia mengeluarkan 4800 gulden untuk biaya pendidikan R.A. Kartini di Belanda. Dan setelah mendengar tentang Agus Salim, ia menulis himbauan itu. Padahal Kartini mendapatkan SK itu dengan perjuangan berat selama bertahun-tahun bahkan dengan bantuan teman-teman Belandanya. Luar biasa bukan? Apakah kamu setuju dengan paman, bahwa bangsa kita perlu memiliki banyak orang-orang yang bermental seperti Kartini lagi?
   Memang, akhirnya permohonan Kartini tidak dikabulkan. Agus Salim tak pernah mendapat beasiswa apapun. Dan bahkan Kartini pun tidak mengambil beasiswa yang dengan susah payah ia dapat itu. Mungkin karena alasan moral : ia merasa ada yang lebih berhak diberangkatkan ke Negeri Kincir Angin itu; selain karena ayahnya, Bupati Jepara, tidak mengizinkan.
   Sekarang kita tahu, kedua orang itu dengan caranya sendiri mampu memberikan sumbangsih kepada bangsanya. R.A. Kartini dan Haji Agus Salim tak pernah bertemu.
   Agus Salim, yang kelak dikenal sebagai Agus Salim (nama aslinya Masyudul Haq) kemudian menjadi Menteri Luar Negeri ketika Republik ini masih balita. Dia adalah delegasi andalan Indonesia, menguasai dan fasih berbicara dalam banyak bahasa dunia. Dia juga dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional. Ya, seperti R.A. Kartini.
   Paman tidak tahu, apakah kalian sependapat dengan paman. Sekali lagi, bangsa kita sekarang ini membutuhkan orang-orang dengan mental seperti itu...



1 The Deaf World

Minggu, 27 November 2011
   Coba bayangin kalau suatu hari, secara mendadak Tuhan mencabut pendengaran setiap manusia (maksudnya kemampuan manusia untuk mendengar dihilangkan). Alhasil jadilah kita sekumpulan makhluk sexy tuli. Hii... Na'udzubillahi min dzalik, jangan sampai deh!. Tapi mari kita teruskan berimajinasi, bagaimana jadinya dunia 'tanpa telinga'.
   Awalnya jelas, kekacauan akan terjadi dimana-mana; mobil-mobil pada tabrakan, penyeberang jalan pun banyak yang ngga selamet gara-gara ngga denger suara klakson; pesawat-pesawat pada jatuh, hilang, atau paling mending terpaksa mendarat darurat, karena para pilot ngga bisa berkomunikasi sama orang di bandara, mereka ngga tau harus mendarat di landasan nomor berapa; orang-orang banting HP karena dikira rusak; headphone, earphone, klephone diinjak-injak; kacau deh pokoknya, yang jelas kita-kita pada nangis.
   Selanjutnya kaya di film-film, pemerintah Amerika mulai ribut, CIA ditugasin nyelidikin sebabnya orang-orang pada budek (tentu mereka berkomunikasi pakai tulisan). Di tiap negara diadain rapat kabinet darurat; caranya mereka duduk melingkar kaya biasa tapi diem-dieman, masing-masing ngadepin laptop, terus chatting deh presiden dan para menterinya pake YM, Mig33 , ICQ , dan sebagainya. Jadi kesannya kaya lagi pada ikutan lomba game online. Oia, pramuka-pramuka berkomunikasi pakai semaphore, jadi banyak yang tangannya pada sakit sebelum selesai satu kalimat.
   Sementara itu orang-orang udah pada bisa nenangin diri. Dimana-mana orang pada sms-an, BBM-an, dll. Ada juga yg saling nunjukin layar HP, yang jempolnya udah pegel pada nulis-nulis di buku catetan atau apapun yang bisa ditulisin, makanya toko stationery rame banget diserbu pembeli. Kantor pos pun ngga kalah ramai, penuh orang-orang yang ngirimin surat ke anaknya yang lagi merantau, isi suratnya tentu saja nyuruh pulang. Pokoknya kasian deh mereka yang buta huruf. 
   Koran-koran laku keras, (pemancar) radio bangkrut, yang bisa ditonton di tivi cuma pertandingan bola n film-film impor yang ada subtitlenya (tapi anak-anak masih tetep nonton kartun).
   Ngga lama, muncullah gadget-gadget yang bisa mengubah suara jadi tulisan. Rata-rata bentuknya kaya i-Pad yang dikalungin ke leher; layarnya menghadap ke depan; microphone-nya kecil dijepitin di kerah baju, kaya yang biasa dipakai sama Imam masjid. Beberapa vendor yang terkenal malah bikin yang sekalian bisa nerjemahin omongan orang ke bahasa lain, terus ditampilin di layar; jadi kalo kita set bahasa indonesia->bahasa inggris, terus ngomong 'Apa kabar?' nanti di layar tertulis 'How are you?'.
   Nah, untuk sementara ngga ada yang bisa ngomong pake bahasa gaul (baca : aneh) semacem 'guweh-eloh' karena untuk bahasa Indonesia, alat-alat ini ngambil kata-kata dari KBBI. Jadi semua pake bahasa Indonesia baku. Hmm...
   Kira-kira begitu.
   Jadi bersyukurlah karena kita bisa mendengar dengan baik, dan bagi anda yang diberi keistimewaan oleh Tuhan dengan tidak dikaruniai pendengaran yang baik, bersyukurlah masih bisa melihat dan membaca. Sedangkan mereka yang bisa melihat tapi ga bisa membaca akan menganggap tulisan ini semacam mantera.
  Begitulah kurang-lebih.

  

1 Fraksi Mahasiswa

Jumat, 25 November 2011

Assalaamu'alaikum....Halo, para keponakan... 
   Ide yang paman kembangkan untuk tulisan ini sebenarnya udah pernah paman pakai untuk mengirim artikel untuk rubrik 'Debat Mahasiswa' di harian Suara Merdeka. Tapi karena ga dimuat, jadi paman tulis di sini aja. Artikel itu udah lama dikirimnya, jadi kemungkinan besar sekarang udah dihapus sama redaksi atau masuk spam. Kalo dipost di sini kan ada kemungkinan dibaca.
   Jadi begini inti ide paman... Kalian tentu tau kan, bahwa para aktivis mahasiswa itu senengnya demo, segalamacem kebijakan pemerintah dijadikan bahan untuk berunjukrasa. Nah, apakah itu didengar oleh para pemimpin daerah atau pemimpin negeri? Dengar sih dengar, orang mereka punya kuping, dan para mahasiswa itu teriaknya pada keras-keras. dan kalaupun ruang kantor pejabat itu kedap suara, setidaknya mereka kan bisa liat di tivi. Tapi yang paman maksudkan adalah, apakah demonstrasi mereka itu dijadikan bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan dan pelaksanaan kebijakan pemerintah. Hmm.... paman ga yakin. Padahal mahasiswa itu (hampir) selalu pro-rakyat lho, lha wong mereka (kami) itu rakyat jelata kok, dan sebagian besar perantau (anak kos), tau sendiri kan, misalnya harga BBM naik, jadi kiriman uang bulanan turun dan ongkos angkot sama harga makanan di warteg jadi mahal.
   Nah, ide paman adalah... Negara kita mungkin kebanyakan partai politik (di amerika aja cuma 2 kok), jadi fraksi di DPRD dan atau DPR itu banyak, tapi liat deh di tivi, kalau lagi ada sidang, yang dateng dikit, itupun pada tidur di ruang sidang. Jadi kenapa ga tambahin aja satu fraksi di DPR, namanya Fraksi Mahasiswa, tentu saja anggotanya para mahasiswa (aktivis yang doyan demo), sebelumnya kurangi satu parpol (jadi ga kebanyakan anggota, kasian yg tugasnya coret-coret di papan tulis kalo voting). Nah, dengan cara ini pendapat mahasiswa-mahasiswa idealis pro-rakyat bisa didengar, karena suara mereka jadi terpakai untuk pengambilan suatu keputusan yang berpengaruh terhadap hajat hidup orang banyak.
   Masa jabatan mereka cukup satu tahun, kaya di BEM (kalo kelamaan ntar ga lulus2). Dan didampingi oleh seorang Professor bidang hukum atau politik, biar ga asal-asalan, dan ehm.. biar bisa lebih sopan dan elegan.
   Begitulah.

3 Jalan Kaki

Paman sering dianggap aneh oleh kawan-kawan di kampus karena paman sering berjalan kaki. Lho... seharusnya ini tidak aneh, jalan kaki kan menyehatkan... apalagi menurut para ahli kesehatan : jalan kaki adalah olahraga yang termurah. Juga untuk jarak dekat, orang memang disarankan untuk berjalan kaki saja, atau bersepeda, daripada naik motor atau mobil... sama saja menyumbang asap untuk atmosfer dunia. Lalu mengapa saya dianggap aneh? Hoho... karena paman, dengan hobi berjalan kaki ini, telah melakukan perjalanan-perjalanan yang umumnya dilakukan di atas jok motor atau mobil, dengan berjalan kaki. 

Wonodri-Tembalang
Paman seorang adalah (mantan) Mahasiswa di kota Semarang, tepatnya di Universitas Diponegoro kampus Tembalang, yang letaknya di daerah bagian selatan kota, yang sering disebut penduduk setempat sebagai 'Semarang Atas'. Sebagai seorang mahasiswa, paman selalu membutuhkan buku-buku penunjang kegiatan perkuliahan atau untuk melakukan penelitian, namun seringkali buku yang paman butuhkan tidak terdapat di UPT Perpustakaan Universitas, jika begini keadaannya maka yang kemudian paman datangi adalah Kantor Arsip dan Perpustakaan Jawa Tengah di 'Semarang Bawah', di kelurahan Wonodri kalau tak salah. Kunjungan ke Perpustakaan Prov. Jateng ini biasanya paman lakukan di weekend (Perpus buka tujuh hari seminggu). Nah, biasanya setelah urusan di Perpustakaan selesai dan tiba saatnya untuk pulang ke rumah kos paman, 'hasrat' untuk berjalan kaki muncul. Maka paman membeli sebotol air mineral, mengencangkan tali sepatu, dan mulai berjalan kaki, menempuh jarak yang lumayan jauh dan menanjak (lebih dari separuh perjalanan menempuh jalan menanjak). Suatu kali ketika paman sedang dalam perjalanan tersebut, saat sedang menelusuri jalan Gombel Baru menuju Jalan Setiabudi, seorang kawan memergoki paman dan dengan wajah heran (karena paman satu-satunya pejalan kaki di jalan tersebut) bertanya 
"Soko ndi kowe?" ("Dari mana kamu?")
"Perpus daerah ndes"
"Mlaku kowe?" ("Jalan kaki kamu?")
"Yo..."
"Ra' nggowo duit opo piye?" ("Ga punya uang atau bagaimana?")
"Nggowo lah, aku pancen lagi kpengin mlaku") ("Bawa sih, tapi saya memang sedang ingin jalan kaki") jawab paman.
Teman saya itu kemudian memandangi paman dari atas kebawah, mungkin paman kelihatan seperti turis kesasar, kemudian berkata:
"Cocoteee!!!...."

Mencari Trotoar
Hal yang sulit bagi paman (dan beberapa orang yang mungkin memiliki hobi yang sama dengan paman) ketika melakukan perjalanan jauh dan mendaki perbukitan adalah  ketika melewati jalan yang menanjak, karena umumnya tidak ada trotoar di jalan yang mananjak, mungkin sang insinyur memperkirakan tidak ada seorang pun (yang waras) untuk berjalan kaki di jalan itu. Di Semarang, contoh jalan menanjak tak bertrotoar adalah jalan di daerah Gombel. Menghadapi hambatan tersebut paman harus putar otak dan putar jalan, melewati jalan-jalan kampung yang berliku-liku dan curam, melelahkan dan jarak serta waktu perjalanan tentu saja menjadi lebih panjang. Tetapi tetap Menyenangkan! setidaknya bagi paman.

Night Walk
Kegilaan paman yang lain, menyangkut kegiatan berjalan kaki paman adalah jalan kaki di waktu malam.
Kadang-kadang, seorang dosen yang berhalangan mengajar di pagi-sore hari akan mengalihkan jadwal kuliahnya menjadi malam hari. Tentu saja kawan-kawan paman banyak yang mengeluh karena memang terasa malas berangkata kuliah di malam hari, saya pun begitu. Tapi bagi paman ada pelipur lara: kesempatan dan alasan untuk melakukan 'Night Walk'... Jalan kaki di malam hari. Kampus Tembalang di malam hari amat gelap dan sepi, terutama di jalan yang paman lewati : Gang Baskara-Teknik Sipil-belok kanan menuju Gedung Prof Soedarto-belok kiri menuju Widya Puraya-belok kanan menuju kampus paman Tenik Mesin, melalui semak-semak MIPA yang gelap gulita. Cool Man! sungguh mencekam!

bersambung....

0 Sindrom Ikalisme

Selasa, 08 November 2011
Siapa tak kenal tetralogi novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, yang keempat-empatnya bercerita tentang kehidupan Ikal --yang merupakan representasi dari diri pribadi penulis, yang memang berambut ikal. Masa kecil si Ikal ini diceritakan dalam buku pertama tetralogi tersebut, berjudul Laskar Pelangi. Ikal adalah anak melayu Belitung (dalam novel tertulis 'Belitong'), ayahnya seorang kuli PN Timah, sejenis BUMN yang bergerak di bidang penambangan timah di pulau Belitung, ibunya tidak bekerja. Maka mereka adalah kaum miskin. Nah, meskipun demikian, ayah Ikal tetap menyekolahkannya, tentu saja dengan harapan bujangnya itu kelak tidak mengikuti jejak ayahnya menjadi tukang sekop bijih timah. Wabakdu masuklah si Ikal di SD Muhammadiyah Gantong, sebuah sekolah yang nyaris ditutup lantaran kekurangan murid. Di sekolah inilah Ikal bertemu kawan-kawannya yang luar biasa, antara lain Lintang, anak pesisir dengan kecerdasan tingkat tinggi yang tidak lazim dimiliki seorang anak SD di daerah terpencil, miskin pula. Lalu ada Mahar, bocah dengan jiwa seni bertaraf maestro yang kelak didaulat menjadi sutradara pentas seni di sebuah karnaval; serta beberapa tokoh lain yang istimewa dengan karakternya masing-masing. Mereka kemudian menamakan diri Laskar Pelangi.
Buku kedua, Sang Pemimpi terutama menceritakan tentang kehidupan dan kebersamaan Ikal dengan tokoh yang tidak ada dalam buku pertama: Arai. Arai ini seorang yatim piatu, dipungut oleh ayah Ikal. Tokoh ini memiliki sifat yang unik, selalu melihat segi positif dari segala hal, kadang konyol, dan selalu menyemangati Ikal di saat mengalami depresi dan krisis mimpi. Maka tak pelak lagi frasa 'Sang Pemimpi' yang menjadi judul buku ini dialamatkan kepada Arai. Suatu hal yang menjadi mimpi mereka berdua (Arai dan Ikal) adalah berkelana berkeliling Eropa dan Afrika; serta menuntut ilmu di Universitas Paris (atau sering disebut dengan nama pendirinya, Sorbonne). Di bagian akhir buku ini diceritakan bahwa mereka berhasil mendapatkan beasiswa penuh untuk bersekolah di universitas tersebut. Ada satu kalimat yang diucapkan oleh tokoh Arai dalam buku ini yang kemudian sering dikutip oleh banyak orang, "Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu".
Buku Ketiga, Edensor menceritakan kehidupan Ikal dan Arai di Prancis, serta tentang terkabulnya sebuah mimpi besar mereka : berkelana keliling Eropa dan Afrika. Bacpacking yang mereka lakukan selama liburan ini mereka danai dengan cara yang kreatif : menjadi seniman jalanan. Bukan unjuk kebolehan bermain musik atau pantomim, tapi menjadi manusia patung!
Buku terakhir, Maryamah Karpov mengandung nuansa fiksi yang kental. Buku ini tentang kehidupan Ikal sepulang dari Eropa, penuh fragmen-fragmen kisah yang unik; antara lain mengenai usaha Ikal membuat bahtera untuk berlayar menjemput A Ling, wanita idamannya.
Nah kawan, menyusul populernya tetralogi novel 'yang tak biasa' ini, kemudian terbitlah beberapa novel yang senada (tidak termasuk novel-novel imitasi dari Laskar Pelangi, yang nyaris termasuk tindakan plagiat), yang kemudian populer adalah Negeri 5 Menara, karya Ahmad Fuadi, urang awak (orang Minangkabau). Alumnus Ponpes Gontor ini bercerita tentang suka-duka menjadi santri. Awal dan akhir novel beralur mundur tersebut menunjukkan di masa dewasa Alif Fikri (tak lain tak bukan adalah diri penulis sendiri) dia bekerja di luar negeri, di AS tepatnya. Adapun buku lain yang memiliki ruh yang sama adalah 9 Summers 10 Autumns karya Iwan Setyawan, anak supir angkot yang menjadi direktur di New York. Ceritanya, ya tentang kehidupan dia.
Dari uraian di atas, dapat kita lihat bahwa buku-buku tersebut menceritakan hal yang hampir sama : orang pelosok bisa ke luar negeri, baik untuk bersekolah (seperti Ikal dan Arai), atau bekerja (seperti Alif dan Iwan). Buku-buku ini tentu dapat berdampak baik bagi pembaca Indonesia, khususnya untuk para pemuda, utamanya sebagai penyemangat bagi mereka yang kurang beruntung; miskin dan tinggal di pelosok. Namun sebagaimana sebagian besar hal di muka bumi ini, tentu saja ini membawa dampak yang kurang baik. Seiring naik daunnya buku-buku semacam itu (sebagian bahkan telah dan akan difilmkan) kisah-kisah itu akan lambat laun membentuk pola pikir pembaca dan atau pemirsanya : orang yang sukses itu yang bisa keluar negeri. Padahal sukses/berhasil/beruntung/bahagia itu relatif adanya. Orang dikatakan sukses manakala berjaya mencapai target atau impiannya, ya seperti para pengarang di atas, tapi kan tidak harus ke luar negeri. Akhirnya ini bisa menimbulkan sikap kurang qona'ah, kurang nrimo dengan keadaan. Melanglang buana ke mancanegara tentu boleh, tapi bukan keharusan, dan bukan standar kesuksesan semua insan. Paham maksud Paman?
Paman sendiri ingin sekali tinggal dan bekerja di Brunei Darussalam. Lho?! Hehehe... ya, mungkin Paman telah terjangkit sindrom ikalisme.

0 Efek Kupu-Kupu

Selasa, 04 Oktober 2011
Efek kupu-kupu (Butterfly effect) adalah istilah untuk sebuah teori Chaos. Istilah ini merujuk pada sebuah pemikiran bahwa kepakan sayap kupu-kupu di hutan belantara Brazil dapat menghasilkan tornado di Texas beberapa bulan kemudian
 
   Sudah baca teks diatas? bisa membayangkan? percaya ngga sama teori tersebut? Hmm.. Kalau paman sih percaya saja, toh yang dikatakan disitu adalah 'dapat menghasilkan...' bukan 'pasti menghasilkan...', sepakat? memang begitulah semua yang namanya teori. Sebab para pencetus berbagai teori toh manusia biasa, sepintar apapun mereka, mereka cuma menerka-nerka saja iya kan? , jangankan cuma teori, lha wong yang sudah 'naik pangkat' jadi Hukum saja belum tentu cocok di segala kondisi kok! contohnya ya Hukum Newton. Sebelum ada Mekanika Kuantum sama Teori Relativitas, para ilmuwan kan yakin bahwa segala gerakan  materi di alam semesta ini 'patuh' sama Hukum Newton, namun  akhirnya 'ketahuan' bahwa ternyata untuk benda-benda dan kondisi tertentu Hukum Newton tidak berlaku.
   Oooke! Kembali ke Efek Kupu-Kupu. Yang membuat paman setuju adalah dasar pemikiran teori ini, yang menurut paman sangat masuk akal. Dasar dari teori ini adalah bahwa ada  (atau mungkin semua?) sistem yang ketergantungannya sangat peka terhadap kondisi awal. Hanya sedikit perubahan pada kondisi awal, dapat mengubah secara drastis kelakuan sistem pada jangka panjang. Jika suatu sistem dimulai dengan kondisi awal dua maka hasil akhir dari sistem yang sama akan jauh berbeda jika dimulai dengan 2,000001 di mana 0,000001 sangat kecil sekali dan wajar untuk diabaikan. Dengan kata lain: kesalahan yang sangat kecil akan menyebabkan bencana dikemudian hari.
   Sejarah dari teori Efek Kupu-Kupu? Baik, ini paman copykan dari wikipedia:
   "Edward Norton Lorenz menemukan efek kupu-kupu atau apa yang menjadi landasan teori chaos pada tahun 1961 di tengah-tengah pekerjaan rutinnya sebagai peneliti meteorologi. Ia dilahirkan pada 23 Mei 1917 di Amerika Serikat dan memiliki latar belakang pendidikan di bidang matematika dan meteorologi dari MIT. Dalam usahanya melakukan peramalan cuaca, dia menyelesaikan 12 persamaan diferensial non-linear dengan komputer. Pada awalnya dia mencetak hasil perhitungannya di atas sehelai kertas dengan format enam angka di belakang koma (...,506127). Kemudian, untuk menghemat waktu dan kertas, ia memasukkan hanya tiga angka di belakang koma (...,506) dan cetakan berikutnya diulangi pada kertas sama yang sudah berisi hasil cetakan tadi. Sejam kemudian, ia dikagetkan dengan hasil yang sangat berbeda dengan yang diharapkan. Pada awalnya kedua kurva tersebut memang berimpitan, tetapi sedikit demi sedikit bergeser sampai membentuk corak yang lain sama sekali.
   Paman punya cerita unik nih yang mungkin ada hubungannya sama teori Efek Kupu-Kupu. Ini tentang tetangga paman, namanya Pak Dakram, dia perutnya busung gara-gara melirik Wainem, seorang janda kembang, yang lagi buang hajat di kali.
   Ceritanya begini, pak Dakram lagi jalan kaki menyusuri jalan kampung, biasa, dia mau berangkat kerja. Jalan kampung yang panjang itu paralel (sejajar) dan berdekatan dengan kali (sungai) yang biasa dipakai warga buat buang hajat, mandi, dan mencuci. Hatta, di tengah perjalanan sudut matanya merasa terusik dengan pemandangan di seberang sungai, apalagi kalau bukan sesosok orang yang sedang buang kotoran, mau tak mau pak Dakram melirik sosok tersebut yang posisinya membelakangi pak Dakram, dan amboi! ternyata itu Wainem sang Bunga Desa!. Merasa terhibur dengan panorama tersebut, pak Dakram jadi lupa waktu, matanya diarahkan ke seberang sungai melebihi waktu yang dialokasikan untuk itu (:D). Maka tak dapat dihindarkan lagi, beliau tersandung batu di jalan yang memang belum diaspal tersebut. Di saat yang sama ketika tubuh pak Dakram oleng, ada seekor katak yang awalnya bermaksud menyeberang jalan dengan tenangnya, namun ketika dia merasa terancam dengan olengnya tubuh pak Dakram, daripada tertimpa dan gepeng, dia memilih kembali ke sisi jalan, masuk ke semak-semak. Nah, kebetulan di balik semak-semak tersebut ada man (kependekan dari kata 'paman', dalam bahasa Tegal) Cu'ing, teman masa kecil pak Dakram yang baru kembali dari perantauan. Man Cu'ing sedang menikmati minuman haram di balik semak-semak, karena dia tau bahwa di kampung tersebut minuman keras tingkatannya lebih dari haram. Singkat kata, Man Cu'ing yang kaget karena pantatnya disundul katak sawah, langsung berdiri, dan ketika dia memutar tubuhnya untuk melihat dan menyumpahi sang katak, dia bertemu mata dengan pak Dakram,
"Kram!", seru man Cu'ing
"Wah, Cu'ing kethek!, kepriben kabare nyuk?!"
...
Maka akhirnya mereka mengobrol di pos ronda, tentunya setelah menuang miras ke dalam botol air mineral pak Dakram yang sudah dikosongkan.  Pak Dakram yang sudah bercerai dengan miras sejak tahun lalu pun akhirnya meminum cairan terkutuk itu lagi.
Satu jam kemudian, mereka berpisah, pak Dakram meneruskan perjalanan dengan sempoyongan. Nah, saat melintasi jemuran kerupuk milik pak Mudin, tiba-tiba pak Dakram ingin kencing. Berhubung beliau lagi mabuk, tanpa pikir panjang, kencinglah ia di bawah pohon mangga di dekat jemuran kerupuk. Pak Mudin, yang mengamati dari jauh, melihat bahwa pak Dakram kencing terlalu dekat dengan kerupuknya yang lagi dijemur, sehingga kerupuknya kecipratan air kencing.
"Heh, Su! (kependekan dari usa, dibalik). Apa-apanan donge, bisane krupuke enyong diuyuhi?"
"Lah, mung kecipretan satitik. Ngko ya bakale digoreng ka, angger digoreng kan kumane pada mati", jawab pak Dakram santai
"Kurangajar ya, tak sumpahi busung koen! Busuuung!"
   Karena pak Mudin termasuk golongan orang yang tertindas (oleh istrinya) dan dizholimi (oleh pak Dakram), maka doanya makbul.
   Kalian tahu cerita selanjutnya.

0 Kepriben Kiye Nasibe "Enyong"?

Lho.. lho.. lho.. kok paman disuruh bersabar? Oohh, oalah.. jadi kamu kira paman sedang meratapi nasib paman? Hahaha, bukan, bukan. Liat tuh, "Enyong"nya pake tanda petik kan? Jadi maksud paman ini bukan nasib paman sendiri, tapi nasib bahasa per-"enyong"-an. Iya, bahasa Tegalan dan bahasa-bahasa daerah lain di Indonesia ini.  Huss! ga usah dipikirin bagaimana? baca nih, artikel di situs "Raja Ali Haji":

Kendari, Sultra - Ratusan bahasa daerah di nusantara terancam punah karena sudah semakin jarang digunakan. Perlu ada upaya penyelamatan jika kekayaan budaya bangsa itu ingin dipertahankan.
Hal itu dikemukakan Ketua Asosiasi Tradisi Lisan Pudentia MPSS di sela-sela lokakarya internasional "Celebrating Diversity" yang digelar di Kendari, Sulawesi Tenggara, Kamis (8/9/2011).
"Banyak bahasa daerah yang terancam punah jika tidak segera dilakukan upaya penyelamatan dengan berbagai cara, salah satunya pendokumentasian," katanya.
Ia mengatakan, Indonesia memiliki lebih kurang 700 bahasa daerah yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Namun, dari jumlah itu, hanya sembilan yang memiliki sistem aksara, yakni Aceh, Batak, Lampung, Melayu, Jawa, Bali, Bugis, Sunda, dan Sasak.
"Sisanya hanya diturunkan melalui tradisi lisan. Inilah yang perlu dikaji lebih jauh dan didokumentasikan agar tidak hilang," katanya.
Saat ini, Asosiasi Tradisi Lisan sedang melakukan program kajian langka untuk mencetak ahli-ahli dalam rangka penelitian dan penyelamatan bahasa-bahasa daerah itu. Mereka terdiri dari berbagai disiplin ilmu, di antaranya antropologi, linguis, sastra, dan arkeologi.
"Kami targetkan dalam waktu lima tahun kita sudah bisa mencetak lebih dari 200 ahli," kata Pudentia. 

Lha iya, paman setuju, waktu jaman paman masih SMA, (paman lulus tahun 2009 Masehi), teman-teman paman sudah banyak yang pakai bahasa 'gaul', kalau pakai bahasa Indonesia sih bagus. Belum lagi kalau di jejaring sosial atau saat menggunakan sms, tulisannya kacau. Bukan, bukan menyingkat itu, kalau singkatan sih paman bisa bacanya, ini justru memperrumit penulisan bahkan kadang memperpanjang. Kembali ke soal bahasa daerah, kemarin paman ketemu teman SMA, sekarang dia kuliah di Semarang, di 'PTN berjaket kuning'. saat ketemu dia langsung menyapa dengan bahasa Semarang, 'Waduh, ini bagaikan kacang lupa akan kulitnya, nih!', pikir paman. Paman pun jadi bingung, mau jawab pakai bahasa apa... ckckck, paman cuma bisa mengelus dada. 
Kayong pada keprimen ya donge?
Ada Solusi?

0 Sambutan Seorang Paman

Senin, 19 September 2011
Saat berkunjung ke blog ini, anggap saja sedang bertandang ke rumah paman!
Karena saya memang seorang paman, Paman Buaya
Lihatlah kata-kata dalam Header blog ini : " Uncle Crocodile Loves You "
Verb dalam kalimat tersebut memiliki akhiran -s, artinya ini sebuah 'General Truth'. Ya, Saya mencintai anda, meski saya tidak kenal siapa anda.
Well, ini blog baru saya meski ini bukan kali pertama saya membuat blog...
Coba anda tebak, kira-kira nantinya blog ini akan berisi sampah macam apa ?
Baik, Pamanmu ini adalah seorang penulis, dan seniman kehidupan, yang menjalani kehidupan dengan caranya sendiri yang unik. Ya ya ya, Paman senang akhirnya kau tahu juga...
Paman akan menuliskan banyak hal disini, mulai dari ide-ide gila paman, artikel-artikel dari Anarchist CookBook, juga beragam 'kue-kue' sains, politik, ekonomi, sastra dan sebagainya dengan sumber buku-buku dari sebuah Perpustakaan besar milik sebuah PTN bergengsi di pulau Jawa.
(Ssstt... Paman juga sedikit mengerti tentang hal-hal yang seharusnya tidak boleh dimengerti. aihihihi #don'tthinkblack)
Yah, masalah lapak, nanti menyusul... tenang, Paman tidak menjual barang murahan.
Ini posting pertama Paman
Paman menyambutmu,
dan Paman mencintaimu... :*