Efek Kupu-Kupu

Selasa, 04 Oktober 2011
Efek kupu-kupu (Butterfly effect) adalah istilah untuk sebuah teori Chaos. Istilah ini merujuk pada sebuah pemikiran bahwa kepakan sayap kupu-kupu di hutan belantara Brazil dapat menghasilkan tornado di Texas beberapa bulan kemudian
 
   Sudah baca teks diatas? bisa membayangkan? percaya ngga sama teori tersebut? Hmm.. Kalau paman sih percaya saja, toh yang dikatakan disitu adalah 'dapat menghasilkan...' bukan 'pasti menghasilkan...', sepakat? memang begitulah semua yang namanya teori. Sebab para pencetus berbagai teori toh manusia biasa, sepintar apapun mereka, mereka cuma menerka-nerka saja iya kan? , jangankan cuma teori, lha wong yang sudah 'naik pangkat' jadi Hukum saja belum tentu cocok di segala kondisi kok! contohnya ya Hukum Newton. Sebelum ada Mekanika Kuantum sama Teori Relativitas, para ilmuwan kan yakin bahwa segala gerakan  materi di alam semesta ini 'patuh' sama Hukum Newton, namun  akhirnya 'ketahuan' bahwa ternyata untuk benda-benda dan kondisi tertentu Hukum Newton tidak berlaku.
   Oooke! Kembali ke Efek Kupu-Kupu. Yang membuat paman setuju adalah dasar pemikiran teori ini, yang menurut paman sangat masuk akal. Dasar dari teori ini adalah bahwa ada  (atau mungkin semua?) sistem yang ketergantungannya sangat peka terhadap kondisi awal. Hanya sedikit perubahan pada kondisi awal, dapat mengubah secara drastis kelakuan sistem pada jangka panjang. Jika suatu sistem dimulai dengan kondisi awal dua maka hasil akhir dari sistem yang sama akan jauh berbeda jika dimulai dengan 2,000001 di mana 0,000001 sangat kecil sekali dan wajar untuk diabaikan. Dengan kata lain: kesalahan yang sangat kecil akan menyebabkan bencana dikemudian hari.
   Sejarah dari teori Efek Kupu-Kupu? Baik, ini paman copykan dari wikipedia:
   "Edward Norton Lorenz menemukan efek kupu-kupu atau apa yang menjadi landasan teori chaos pada tahun 1961 di tengah-tengah pekerjaan rutinnya sebagai peneliti meteorologi. Ia dilahirkan pada 23 Mei 1917 di Amerika Serikat dan memiliki latar belakang pendidikan di bidang matematika dan meteorologi dari MIT. Dalam usahanya melakukan peramalan cuaca, dia menyelesaikan 12 persamaan diferensial non-linear dengan komputer. Pada awalnya dia mencetak hasil perhitungannya di atas sehelai kertas dengan format enam angka di belakang koma (...,506127). Kemudian, untuk menghemat waktu dan kertas, ia memasukkan hanya tiga angka di belakang koma (...,506) dan cetakan berikutnya diulangi pada kertas sama yang sudah berisi hasil cetakan tadi. Sejam kemudian, ia dikagetkan dengan hasil yang sangat berbeda dengan yang diharapkan. Pada awalnya kedua kurva tersebut memang berimpitan, tetapi sedikit demi sedikit bergeser sampai membentuk corak yang lain sama sekali.
   Paman punya cerita unik nih yang mungkin ada hubungannya sama teori Efek Kupu-Kupu. Ini tentang tetangga paman, namanya Pak Dakram, dia perutnya busung gara-gara melirik Wainem, seorang janda kembang, yang lagi buang hajat di kali.
   Ceritanya begini, pak Dakram lagi jalan kaki menyusuri jalan kampung, biasa, dia mau berangkat kerja. Jalan kampung yang panjang itu paralel (sejajar) dan berdekatan dengan kali (sungai) yang biasa dipakai warga buat buang hajat, mandi, dan mencuci. Hatta, di tengah perjalanan sudut matanya merasa terusik dengan pemandangan di seberang sungai, apalagi kalau bukan sesosok orang yang sedang buang kotoran, mau tak mau pak Dakram melirik sosok tersebut yang posisinya membelakangi pak Dakram, dan amboi! ternyata itu Wainem sang Bunga Desa!. Merasa terhibur dengan panorama tersebut, pak Dakram jadi lupa waktu, matanya diarahkan ke seberang sungai melebihi waktu yang dialokasikan untuk itu (:D). Maka tak dapat dihindarkan lagi, beliau tersandung batu di jalan yang memang belum diaspal tersebut. Di saat yang sama ketika tubuh pak Dakram oleng, ada seekor katak yang awalnya bermaksud menyeberang jalan dengan tenangnya, namun ketika dia merasa terancam dengan olengnya tubuh pak Dakram, daripada tertimpa dan gepeng, dia memilih kembali ke sisi jalan, masuk ke semak-semak. Nah, kebetulan di balik semak-semak tersebut ada man (kependekan dari kata 'paman', dalam bahasa Tegal) Cu'ing, teman masa kecil pak Dakram yang baru kembali dari perantauan. Man Cu'ing sedang menikmati minuman haram di balik semak-semak, karena dia tau bahwa di kampung tersebut minuman keras tingkatannya lebih dari haram. Singkat kata, Man Cu'ing yang kaget karena pantatnya disundul katak sawah, langsung berdiri, dan ketika dia memutar tubuhnya untuk melihat dan menyumpahi sang katak, dia bertemu mata dengan pak Dakram,
"Kram!", seru man Cu'ing
"Wah, Cu'ing kethek!, kepriben kabare nyuk?!"
...
Maka akhirnya mereka mengobrol di pos ronda, tentunya setelah menuang miras ke dalam botol air mineral pak Dakram yang sudah dikosongkan.  Pak Dakram yang sudah bercerai dengan miras sejak tahun lalu pun akhirnya meminum cairan terkutuk itu lagi.
Satu jam kemudian, mereka berpisah, pak Dakram meneruskan perjalanan dengan sempoyongan. Nah, saat melintasi jemuran kerupuk milik pak Mudin, tiba-tiba pak Dakram ingin kencing. Berhubung beliau lagi mabuk, tanpa pikir panjang, kencinglah ia di bawah pohon mangga di dekat jemuran kerupuk. Pak Mudin, yang mengamati dari jauh, melihat bahwa pak Dakram kencing terlalu dekat dengan kerupuknya yang lagi dijemur, sehingga kerupuknya kecipratan air kencing.
"Heh, Su! (kependekan dari usa, dibalik). Apa-apanan donge, bisane krupuke enyong diuyuhi?"
"Lah, mung kecipretan satitik. Ngko ya bakale digoreng ka, angger digoreng kan kumane pada mati", jawab pak Dakram santai
"Kurangajar ya, tak sumpahi busung koen! Busuuung!"
   Karena pak Mudin termasuk golongan orang yang tertindas (oleh istrinya) dan dizholimi (oleh pak Dakram), maka doanya makbul.
   Kalian tahu cerita selanjutnya.

0 komentar:

Posting Komentar