Kepriben Kiye Nasibe "Enyong"?

Selasa, 04 Oktober 2011
Lho.. lho.. lho.. kok paman disuruh bersabar? Oohh, oalah.. jadi kamu kira paman sedang meratapi nasib paman? Hahaha, bukan, bukan. Liat tuh, "Enyong"nya pake tanda petik kan? Jadi maksud paman ini bukan nasib paman sendiri, tapi nasib bahasa per-"enyong"-an. Iya, bahasa Tegalan dan bahasa-bahasa daerah lain di Indonesia ini.  Huss! ga usah dipikirin bagaimana? baca nih, artikel di situs "Raja Ali Haji":

Kendari, Sultra - Ratusan bahasa daerah di nusantara terancam punah karena sudah semakin jarang digunakan. Perlu ada upaya penyelamatan jika kekayaan budaya bangsa itu ingin dipertahankan.
Hal itu dikemukakan Ketua Asosiasi Tradisi Lisan Pudentia MPSS di sela-sela lokakarya internasional "Celebrating Diversity" yang digelar di Kendari, Sulawesi Tenggara, Kamis (8/9/2011).
"Banyak bahasa daerah yang terancam punah jika tidak segera dilakukan upaya penyelamatan dengan berbagai cara, salah satunya pendokumentasian," katanya.
Ia mengatakan, Indonesia memiliki lebih kurang 700 bahasa daerah yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Namun, dari jumlah itu, hanya sembilan yang memiliki sistem aksara, yakni Aceh, Batak, Lampung, Melayu, Jawa, Bali, Bugis, Sunda, dan Sasak.
"Sisanya hanya diturunkan melalui tradisi lisan. Inilah yang perlu dikaji lebih jauh dan didokumentasikan agar tidak hilang," katanya.
Saat ini, Asosiasi Tradisi Lisan sedang melakukan program kajian langka untuk mencetak ahli-ahli dalam rangka penelitian dan penyelamatan bahasa-bahasa daerah itu. Mereka terdiri dari berbagai disiplin ilmu, di antaranya antropologi, linguis, sastra, dan arkeologi.
"Kami targetkan dalam waktu lima tahun kita sudah bisa mencetak lebih dari 200 ahli," kata Pudentia. 

Lha iya, paman setuju, waktu jaman paman masih SMA, (paman lulus tahun 2009 Masehi), teman-teman paman sudah banyak yang pakai bahasa 'gaul', kalau pakai bahasa Indonesia sih bagus. Belum lagi kalau di jejaring sosial atau saat menggunakan sms, tulisannya kacau. Bukan, bukan menyingkat itu, kalau singkatan sih paman bisa bacanya, ini justru memperrumit penulisan bahkan kadang memperpanjang. Kembali ke soal bahasa daerah, kemarin paman ketemu teman SMA, sekarang dia kuliah di Semarang, di 'PTN berjaket kuning'. saat ketemu dia langsung menyapa dengan bahasa Semarang, 'Waduh, ini bagaikan kacang lupa akan kulitnya, nih!', pikir paman. Paman pun jadi bingung, mau jawab pakai bahasa apa... ckckck, paman cuma bisa mengelus dada. 
Kayong pada keprimen ya donge?
Ada Solusi?

0 komentar:

Posting Komentar