The Deaf World

Minggu, 27 November 2011
   Coba bayangin kalau suatu hari, secara mendadak Tuhan mencabut pendengaran setiap manusia (maksudnya kemampuan manusia untuk mendengar dihilangkan). Alhasil jadilah kita sekumpulan makhluk sexy tuli. Hii... Na'udzubillahi min dzalik, jangan sampai deh!. Tapi mari kita teruskan berimajinasi, bagaimana jadinya dunia 'tanpa telinga'.
   Awalnya jelas, kekacauan akan terjadi dimana-mana; mobil-mobil pada tabrakan, penyeberang jalan pun banyak yang ngga selamet gara-gara ngga denger suara klakson; pesawat-pesawat pada jatuh, hilang, atau paling mending terpaksa mendarat darurat, karena para pilot ngga bisa berkomunikasi sama orang di bandara, mereka ngga tau harus mendarat di landasan nomor berapa; orang-orang banting HP karena dikira rusak; headphone, earphone, klephone diinjak-injak; kacau deh pokoknya, yang jelas kita-kita pada nangis.
   Selanjutnya kaya di film-film, pemerintah Amerika mulai ribut, CIA ditugasin nyelidikin sebabnya orang-orang pada budek (tentu mereka berkomunikasi pakai tulisan). Di tiap negara diadain rapat kabinet darurat; caranya mereka duduk melingkar kaya biasa tapi diem-dieman, masing-masing ngadepin laptop, terus chatting deh presiden dan para menterinya pake YM, Mig33 , ICQ , dan sebagainya. Jadi kesannya kaya lagi pada ikutan lomba game online. Oia, pramuka-pramuka berkomunikasi pakai semaphore, jadi banyak yang tangannya pada sakit sebelum selesai satu kalimat.
   Sementara itu orang-orang udah pada bisa nenangin diri. Dimana-mana orang pada sms-an, BBM-an, dll. Ada juga yg saling nunjukin layar HP, yang jempolnya udah pegel pada nulis-nulis di buku catetan atau apapun yang bisa ditulisin, makanya toko stationery rame banget diserbu pembeli. Kantor pos pun ngga kalah ramai, penuh orang-orang yang ngirimin surat ke anaknya yang lagi merantau, isi suratnya tentu saja nyuruh pulang. Pokoknya kasian deh mereka yang buta huruf. 
   Koran-koran laku keras, (pemancar) radio bangkrut, yang bisa ditonton di tivi cuma pertandingan bola n film-film impor yang ada subtitlenya (tapi anak-anak masih tetep nonton kartun).
   Ngga lama, muncullah gadget-gadget yang bisa mengubah suara jadi tulisan. Rata-rata bentuknya kaya i-Pad yang dikalungin ke leher; layarnya menghadap ke depan; microphone-nya kecil dijepitin di kerah baju, kaya yang biasa dipakai sama Imam masjid. Beberapa vendor yang terkenal malah bikin yang sekalian bisa nerjemahin omongan orang ke bahasa lain, terus ditampilin di layar; jadi kalo kita set bahasa indonesia->bahasa inggris, terus ngomong 'Apa kabar?' nanti di layar tertulis 'How are you?'.
   Nah, untuk sementara ngga ada yang bisa ngomong pake bahasa gaul (baca : aneh) semacem 'guweh-eloh' karena untuk bahasa Indonesia, alat-alat ini ngambil kata-kata dari KBBI. Jadi semua pake bahasa Indonesia baku. Hmm...
   Kira-kira begitu.
   Jadi bersyukurlah karena kita bisa mendengar dengan baik, dan bagi anda yang diberi keistimewaan oleh Tuhan dengan tidak dikaruniai pendengaran yang baik, bersyukurlah masih bisa melihat dan membaca. Sedangkan mereka yang bisa melihat tapi ga bisa membaca akan menganggap tulisan ini semacam mantera.
  Begitulah kurang-lebih.

  

1 komentar:

hanif Says:
28 November 2011 02.45

wow amazing ya, jadi tambah bersyukur udah dikasih karunia bisa denger :)

Posting Komentar