Sindrom Ikalisme

Selasa, 08 November 2011
Siapa tak kenal tetralogi novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, yang keempat-empatnya bercerita tentang kehidupan Ikal --yang merupakan representasi dari diri pribadi penulis, yang memang berambut ikal. Masa kecil si Ikal ini diceritakan dalam buku pertama tetralogi tersebut, berjudul Laskar Pelangi. Ikal adalah anak melayu Belitung (dalam novel tertulis 'Belitong'), ayahnya seorang kuli PN Timah, sejenis BUMN yang bergerak di bidang penambangan timah di pulau Belitung, ibunya tidak bekerja. Maka mereka adalah kaum miskin. Nah, meskipun demikian, ayah Ikal tetap menyekolahkannya, tentu saja dengan harapan bujangnya itu kelak tidak mengikuti jejak ayahnya menjadi tukang sekop bijih timah. Wabakdu masuklah si Ikal di SD Muhammadiyah Gantong, sebuah sekolah yang nyaris ditutup lantaran kekurangan murid. Di sekolah inilah Ikal bertemu kawan-kawannya yang luar biasa, antara lain Lintang, anak pesisir dengan kecerdasan tingkat tinggi yang tidak lazim dimiliki seorang anak SD di daerah terpencil, miskin pula. Lalu ada Mahar, bocah dengan jiwa seni bertaraf maestro yang kelak didaulat menjadi sutradara pentas seni di sebuah karnaval; serta beberapa tokoh lain yang istimewa dengan karakternya masing-masing. Mereka kemudian menamakan diri Laskar Pelangi.
Buku kedua, Sang Pemimpi terutama menceritakan tentang kehidupan dan kebersamaan Ikal dengan tokoh yang tidak ada dalam buku pertama: Arai. Arai ini seorang yatim piatu, dipungut oleh ayah Ikal. Tokoh ini memiliki sifat yang unik, selalu melihat segi positif dari segala hal, kadang konyol, dan selalu menyemangati Ikal di saat mengalami depresi dan krisis mimpi. Maka tak pelak lagi frasa 'Sang Pemimpi' yang menjadi judul buku ini dialamatkan kepada Arai. Suatu hal yang menjadi mimpi mereka berdua (Arai dan Ikal) adalah berkelana berkeliling Eropa dan Afrika; serta menuntut ilmu di Universitas Paris (atau sering disebut dengan nama pendirinya, Sorbonne). Di bagian akhir buku ini diceritakan bahwa mereka berhasil mendapatkan beasiswa penuh untuk bersekolah di universitas tersebut. Ada satu kalimat yang diucapkan oleh tokoh Arai dalam buku ini yang kemudian sering dikutip oleh banyak orang, "Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu".
Buku Ketiga, Edensor menceritakan kehidupan Ikal dan Arai di Prancis, serta tentang terkabulnya sebuah mimpi besar mereka : berkelana keliling Eropa dan Afrika. Bacpacking yang mereka lakukan selama liburan ini mereka danai dengan cara yang kreatif : menjadi seniman jalanan. Bukan unjuk kebolehan bermain musik atau pantomim, tapi menjadi manusia patung!
Buku terakhir, Maryamah Karpov mengandung nuansa fiksi yang kental. Buku ini tentang kehidupan Ikal sepulang dari Eropa, penuh fragmen-fragmen kisah yang unik; antara lain mengenai usaha Ikal membuat bahtera untuk berlayar menjemput A Ling, wanita idamannya.
Nah kawan, menyusul populernya tetralogi novel 'yang tak biasa' ini, kemudian terbitlah beberapa novel yang senada (tidak termasuk novel-novel imitasi dari Laskar Pelangi, yang nyaris termasuk tindakan plagiat), yang kemudian populer adalah Negeri 5 Menara, karya Ahmad Fuadi, urang awak (orang Minangkabau). Alumnus Ponpes Gontor ini bercerita tentang suka-duka menjadi santri. Awal dan akhir novel beralur mundur tersebut menunjukkan di masa dewasa Alif Fikri (tak lain tak bukan adalah diri penulis sendiri) dia bekerja di luar negeri, di AS tepatnya. Adapun buku lain yang memiliki ruh yang sama adalah 9 Summers 10 Autumns karya Iwan Setyawan, anak supir angkot yang menjadi direktur di New York. Ceritanya, ya tentang kehidupan dia.
Dari uraian di atas, dapat kita lihat bahwa buku-buku tersebut menceritakan hal yang hampir sama : orang pelosok bisa ke luar negeri, baik untuk bersekolah (seperti Ikal dan Arai), atau bekerja (seperti Alif dan Iwan). Buku-buku ini tentu dapat berdampak baik bagi pembaca Indonesia, khususnya untuk para pemuda, utamanya sebagai penyemangat bagi mereka yang kurang beruntung; miskin dan tinggal di pelosok. Namun sebagaimana sebagian besar hal di muka bumi ini, tentu saja ini membawa dampak yang kurang baik. Seiring naik daunnya buku-buku semacam itu (sebagian bahkan telah dan akan difilmkan) kisah-kisah itu akan lambat laun membentuk pola pikir pembaca dan atau pemirsanya : orang yang sukses itu yang bisa keluar negeri. Padahal sukses/berhasil/beruntung/bahagia itu relatif adanya. Orang dikatakan sukses manakala berjaya mencapai target atau impiannya, ya seperti para pengarang di atas, tapi kan tidak harus ke luar negeri. Akhirnya ini bisa menimbulkan sikap kurang qona'ah, kurang nrimo dengan keadaan. Melanglang buana ke mancanegara tentu boleh, tapi bukan keharusan, dan bukan standar kesuksesan semua insan. Paham maksud Paman?
Paman sendiri ingin sekali tinggal dan bekerja di Brunei Darussalam. Lho?! Hehehe... ya, mungkin Paman telah terjangkit sindrom ikalisme.

0 komentar:

Posting Komentar