Sebuah Surat dari Kartini

Senin, 28 November 2011

Tahun 1903, kalangan intelektual dan pemerintah Hindia Belanda gempar, disebabkan berita mengenai seorang inlander (pribumi); pemuda Minangkabau (dibesarkan di Riau) yang bersekolah di HBS (Hogere Burger School) Batavia; bernama Agus Salim. Dia lulus dengan nilai terbaik di seluruh Hindia Belanda (waktu itu ada 3 HBS di Hindia Belanda). Bukan saja untuk satu bidang studi, nilai-nilainya untuk bidang Ilmu Sosial, Ilmu Pasti, bahkan bahasa Belanda, terbaik di seluruh Nusantara. Sayangnya dia berasal dari keluarga dengan keadaan finansial pas-pasan.

   Kabar tentang anak jenius berusia 19 tahun ini dengan cepat menyebar, dan terdengar juga oleh Raden Ajeng Kartini, putri bangsawan asal Jepara. Hatinya begitu tersentuh. Dia kemudian menulis surat untuk kepada temannya, Ny. Abendanon, istri pejabat tinggi pemerintah Hindia Belanda bidang pendidikan. Waktu itu Kartini berusia 24 tahun, dan Agus Salim 19 tahun. Demikian bunyi suratnya, paman kutip dari buku "100 Tahun Haji Agus Salim", terbitan Sinar Harapan, 1984.
Mari kita simak...



24 Juli 1903

Saya punya permohonan yang penting sekali untuk Nyonya, tapi sesungguhnya permohonan itu ditujukan kepada Tuan (Abendanon). Maukah Nyonya meneruskannya kepadanya?
    Kami tertarik sekali kepada seorang anak muda, kami ingin melihat dia dikaruniai bahagia. Anak muda itu namanya Salim, dia orang Sumatra asal Riau, yang dalam tahun ini mengikuti ujian penghabisan sekolah menengah HBS, dan ia keluar sebagai juara. Juara pertama dari ketiga-tiga HBS!
   Anak muda itu ingin sekali pergi ke Negri Belanda untuk belajar menjadi dokter. Sayang sekali, keuangannya tidak memungkinkan. Gaji ayahnya cuma F 150,- sebulan.
    Jika dikehendaki , rasanya mau dia bekerja sebagai kelasi di kapal, asal saja boleh ia berlayar ke Negeri Belanda.
    Tanyalah pada Hasim tentang anak muda itu. Hasim kenal dia; pernah mendengar anak muda itu bicara di Stovia . Nampaknya dia seorang pemuda yang hebat yang pantas diberi bantuan.
    Ketika kami mendengar tentang dia dan cita-citanya, muncul keinginan yang tak terbendung untuk melakukan sesuatu yang dapat meringankan bebannya. Teringat kami pada SK Gubernemen tertanggal 7 Juli 1903--SK yang begitu didambakan sebelumnya tapi kemudian, ketika kami terima, dipandang dengan rasa pilu yang menyayat hati.
     Apakah hasil usaha sahabat-sahabat yang mulia, buah harapan dan doa kami akan hilang lenyap saja, tak terpakai?
    Apakah tak mungkin orang lain menikmati manfaatnya ? Gubernemen menyediakan untuk kami berdua sejumlah uang sebesar 4800 gulden guna penyelesaian pendidikan kami. Apakah tidak bisa uang itu dipindahkan kepada orang lain yang juga perlu dibantu, mungkin lebih banyak kepentingan daripada kami ! Alangkah indahnya andai pemerintah bersedia membiayai seluruh pendidikannya yang berjumlah kira-kira 8000 gulden. Bila tak mungkin, kami akan berterimakasih, seandainya Salim dapat menerima jumlah 4800 gulden yang disediakan untuk kami itu. Untuk sisa kurangnya kami dapat meminta bantuan orang lain.
    Ah, biarkan dia menikmati kesenangan itu, kesenangan yang sudah lama kami dambakan, tapi yang kini diraih lepas dari jangkauan kami.
    Berikanlah kami rasa bahagia dengan membahagiakan orang lain yang mempunyai keinginan-keinginan, perasaan-perasaan, dan cita-cita yang sama dengan kami.
    Kami tahu apa artinya merasakan sesuatu hidup dalam sukma, kami mengerti betapa pemuda Salim mengandung hasrat yang membara dalam dada.
    Wahai, jangan biarkan jiwa hidup yang muda serta indah itu mati di kuncup! Jangan biarkan tenaga yang segar hilang percuma! Ia harus dirawat dan didayagunakan sebaik mungkin untuk kebajikan rakyat yang begitu gandrung pada tenaga-tenaga yang langka ini!
   Banyak sekali yang dapat dilakukan oleh Salim sebagai dokter untuk rakyatnya. Dan sesungguhnyalah, adalah idaman Salim untuk bekerja untuk rakyat kita!
    Permohonan kami ini agak aneh, kami sadar akan hal itu, tapi kami akan memuji syukur, jika ia dapat dipenuhi! Ibu, perjuangan yang berbulan-bulan, bertahun-tahun lamanya, tidak akan sia-sia dalam pandangan kami!
    Berikanlah kami rasa mujur yang nikmat, yaitu menyaksikan buah perjuangan dan penderitaan kami, tegasnya terwujudnya cita-cita Salim, selagi hayat masih dikandung badan.
   Salim sendiri tidak tahu apa-apa; ia tidak tahu eksistensi kami malah. Yang diketahuinya hanyalah bahwa dengan sepenuh hati ingin ia menyelesaikan pelajarannya, agar kemudian dapat bekerja untuk rakyatnya. Dan ia juga sadar bahwa itu suatu idaman mustahil, karena ia tak mempunyai dana.
    Kita hidup, kita berharap, dan kita berdoa untuk pemuda Salim!


   Nah, paman beritahu, 17 hari sebelum menulis surat di atas, R.A. Kartini baru saja mendapat besluit atau Surat Keputusan yang menyatakan bahwa Gubernemen (pemerintah) bersedia mengeluarkan 4800 gulden untuk biaya pendidikan R.A. Kartini di Belanda. Dan setelah mendengar tentang Agus Salim, ia menulis himbauan itu. Padahal Kartini mendapatkan SK itu dengan perjuangan berat selama bertahun-tahun bahkan dengan bantuan teman-teman Belandanya. Luar biasa bukan? Apakah kamu setuju dengan paman, bahwa bangsa kita perlu memiliki banyak orang-orang yang bermental seperti Kartini lagi?
   Memang, akhirnya permohonan Kartini tidak dikabulkan. Agus Salim tak pernah mendapat beasiswa apapun. Dan bahkan Kartini pun tidak mengambil beasiswa yang dengan susah payah ia dapat itu. Mungkin karena alasan moral : ia merasa ada yang lebih berhak diberangkatkan ke Negeri Kincir Angin itu; selain karena ayahnya, Bupati Jepara, tidak mengizinkan.
   Sekarang kita tahu, kedua orang itu dengan caranya sendiri mampu memberikan sumbangsih kepada bangsanya. R.A. Kartini dan Haji Agus Salim tak pernah bertemu.
   Agus Salim, yang kelak dikenal sebagai Agus Salim (nama aslinya Masyudul Haq) kemudian menjadi Menteri Luar Negeri ketika Republik ini masih balita. Dia adalah delegasi andalan Indonesia, menguasai dan fasih berbicara dalam banyak bahasa dunia. Dia juga dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional. Ya, seperti R.A. Kartini.
   Paman tidak tahu, apakah kalian sependapat dengan paman. Sekali lagi, bangsa kita sekarang ini membutuhkan orang-orang dengan mental seperti itu...



4 komentar:

FridiGraph Says:
28 November 2011 22.16

betul sekali
kami butuh orang-orang dengan mental seperti itu

Fridi Graphic

Ca Ya Says:
28 November 2011 22.36

setujuh banget!!!
sekarang ini JARANG banget n bahkan keliatannya ga ada org2 hebat seperti mereka...ah andai saja...

ega primebound Says:
29 November 2011 01.35

Kit abutuh orang seperti kartini
Zaman skrg mnrt saya orang2 itu egois dan sibuk memperkaya diri sendiri dgn materi yg belum tentu halal..

Ya semoga bsk generasi kita masih mempunyai perasaan sprti Kartini

Paman Buaya Says:
29 November 2011 04.57

yup guys.. mungkin itulah makna pengorbanan bagi Kartini, dan para pendiri bangsa. Totally

Posting Komentar