Bisul

Selasa, 13 Desember 2011
Namanya Bambang Sulistyawan, tapi dalam percakapan di antara kami, mahasiswa, kami menyebutnya Pak Bisul. Tampaknya ia adalah seorang dosen di Fakultas Kedokteran. Dalam birokrasi Universitas, tampaknya dia bertugas memastikan bahwa tiap delegasi mahasiswa yang dikirim ke luar kampus untuk mengikuti berbagai kompetisi bergengsi dalam keadaan baik, siap mental, tahu sopan santun, dan akhirnya tidak memalukan. Tugasnya berlangsung bukan cuma pra acara, dia membimbing mahasiswa selama masa persiapan hingga saat berlangsungnya kegiatan, bahkan ketika perlombaan selesai, dia masih tampil, membesarkan hati yang kalah, dan mengucapkan selamat kepada yang berhasil, serta menyampaikan pesan-pesan lainnya. Agaknya ia telah cukup berpengalaman dalam bidang ini. Pertama kali paman bertemu dengannya kira-kira 2 minggu sebelum keberangkatan saya dan kawan-kawan ke Makassar guna mengikuti Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional, 18-23 Juli 2011. Pak Bisul ini pada dasarnya seorang yang baik dan ramah, tapi ketika simulasi presentasi, dan ia menjadi juri, siap-siaplah dicaci maki.
Dalam pada itu, paman mendapati, tugasnya begitu mengasyikkan. Saya kira cuma kali itu sajalah dia mendampingi mahasiswa, mengikuti ke mana kami pergi bertempur. Namun kemudian saya tahu, bahwa dia juga mendampingi delegasi mahasiswa yang berangkat ke Boston dalam acara HNMUN. Wow.. what a job! Bayangkan, dia selalu ikut ke mana mahasiswa pergi, tentu saja bukan pesiar, dia juga ikut berpikir, berusaha agar pulang membawa hasil; tapi bung, namanya toh tetap saja bepergian, melihat tempat-tempat baru, bahkan sampai ke luar negeri, tiap tahun tanpa diseleksi.
Coba katakan, seandainya anda yang memiliki pekerjaan macam itu, tidakkah anda senang? Sebelumnya kesampingkan dulu rasa lelah yang membayang, meninggalkan keluarga di rumah, dll. Fokus ke 'bepergian'. Senang kan? Iya kan? Tidak? Ah, masa...
Maka terbitlah suatu pertanyaan di benak paman, apa yang menyebabkan kita merasa senang ketika bepergian? Apakah karena melihat tempat-tempat yang belum pernah kita lihat? Ya lalu kenapa? itulah pertanyaannya. Atau mungkin yang menyenangkan adalah ketika kita membayangkan akan menceritakan kisah tentang perjalanan kita kepada mereka yang belum pernah kemana-mana, saat pulang nanti?
Entahlah.

0 komentar:

Posting Komentar