Blur

Rabu, 14 Desember 2011
   Alkisah, Tuhan menciptakan seorang manusia yang istimewa, sebut saja namanya Amin. Ketika dilahirkan, tak tampak sesuatu pun yang istimewa, ia seperti bayi lainnya. Semua tentang dirinya tampak normal pada masa balitanya. Keanehan mulai muncul ketika ia berusia 5 tahun, setelah ia tak lagi dimandikan oleh ibunya, dan waktu itu dia mulai ikut mengaji di mushalla selepas maghrib. Singkatnya, setelah dia mulai mengenal norma-norma kesusilaan, dia menjadi berbeda dengan orang lain. 
   Bermula ketika pada suatu saat, sepulang sekolah, ia lupa uluk salam dan langsung ke dapur mencari ibunya, yang ternyata tidak berada di sana, maka ia menuju ke kamar orangtuanya, dan segera setelah dia membuka pintu, dia menjerit. Waktu itu ibunya berada di kamar sedang mengganti baju, Amin melihatnya, dan menjerit karena yang dia lihat bukan sosok ibunya melainkan sebuah bayangan blur, buram, warna sawo matang dengan pulasan warna hitam di atasnya, dan lebih mengerikan lagi, ketika ibunya menengok, wajah ibunya ternyata seperti mosaik, kotak-kotak!!! Itulah keistimewaan Amin, ada sensor otomatis di otaknya, di lobus oksipitalnya. Semua yang tidak pantas ia lihat, dalam pandangannya menjadi buram. 
   Tidak, dia tidak maksum (bebas dari dosa) seperti nabi, tentu saja. Mulutnya masih bisa untuk mengejek kawannya, tangannya bisa untuk memukul; meskipun tidak ia lakukan.Keistimewaannya hanya sensor alami itu saja.
   Hatta, saat Amin mencapai usia remajanya, sekali waktu dia pernah belajar kelompok di rumah kawannya sekelas di SMP, rumah kawannya itu sepi, dia orang kaya dan punya VCD Player. Selesai mengerjakan tugas bersama, tanpa diduga, teman si Amin itu mengajak semua temannya menonton film di kamar, Amin pun dengan polosnya ikut saja. Film pun dimulai, judulnya "This is Not HULK, This is a Parody". 10 menit kemudian film menjadi buram penuh sensor (menurut pandangan Amin), dan cuma terdengar lenguhan-lenguhan yang tidak jelas.
   Begitulah. Maka hari berganti hari, Amin yang cerdas tumbuh dewasa, sekolahnya lancar, nilai-nilainya bagus, dan sensor alaminya masih berfungsi sangat baik, dan makin baik, sehingga alun-alun di waktu malam minggu, menurut Amin adalah tempat paling horror sedunia.
   Setelah lulus SMA, Amin kuliah di Fakultas Ekonomi, bidang studi ilmu ekonomi dan studi pembangunan, dan dia menjadi aktivis kampus. Singkat cerita ia lulus dengan predikat summa cumlaude. Dapat pekerjaan dengan mudah di kementrian keuangan, dan dipinang banyak parpol. Akhirnya ia terbujuk, masuk ke dalam salah satu parpol. Sebagai caleg, ia sukses berat. Rakyat mengirimnya ke Senayan. Jadilah ia anggota DPR. Dan karena skill nya di bidang ekonomi terbilang cemerlang, maka ia dengan mudahnya masuk Badan Anggaran.
   Namun malang, wahai kawan... Sebulan menjabat, ia di recall (dipanggil, lalu digantikan oleh kader lain) oleh partainya. Lho, apa lacur? 
   Ternyata ia didepak karena kerjanya tidak becus. Betapa tidak, tanda tangannya dibutuhkan untuk pengesahan anggaran, namun selalu saja ia tanda tangan di kop surat, lain waktu tabel anggaran ia tanda tangani, kemudian tengah-tengah lembar rincian anggaran ia stempel. Ia pun dianggap seperti orang linglung, sering menabrak pintu di gedung DPR, sering meraung-raung saat sidang. Pernah juga ia kencing di tengah ruang sidang paripurna, di depan Presiden!!!. Karena ia tak kunjung menemukan pintu keluar sidang.
   Amin sendiri ternyata bersyukur karena pemecatannya. Gedung DPR lebih horror ternyata, daripada alun-alun saat malam minggu.

1 komentar:

piggy Says:
15 Februari 2012 23.11

menarik bro tulisannya...

^_^

Posting Komentar