Ketika Bulan Jatuh (Part II)

Minggu, 04 Desember 2011
Oke, ngelanjutin resensi kemarin...
Singkat aja ya...
...
Maka, seperti yang dikehendaki pemerintah, masyarakat tetap tenang. Bahkan ketika malam Bulan purnama, dan Bulan tampak lebih besar dari biasanya, alih-alih ketakutan, orang-orang justru senang dan berharap Bulan selamanya tampak sebesar itu.
Akhirnya setelah bunker-bunker selesai dibangun, melalui gereja, masyarakat diberitahu apa yang sebenarnya akan terjadi. Maka gemparlah dimana-mana. Di sisi lain, Edgar Hopkins merasa lega karena tidak lagi menyimpan rahasia--sekarang ia bisa bercerita dan bertukar pikiran dengan orang-orang mengenai bencana yang diramalkan akan terjadi itu.
Hari berganti hari, tibalah hari yang menurut kalkulasi para ahli Bulan akan pecah dan jatuh pada hari itu. 3 Mei, jam 8 malam. Sejak pagi orang-orang bersiap untuk masuk ke bunker perlindungan. Namun Hopkins berniat akan tinggal di rumahnya sendiri, apapun yang akan terjadi. Dia merasa senang karena ternyata bukan dia sendiri yang ingin tinggal di rumah. Di sebuah bukit yang lain berseberangan dengan bukitnya. Ada seorang temannya bersama 2 keponakannya yang berprinsip 'hidup mati di rumah sendiri'.
Tepat seperti yang diramalkan, malam harinya langit gelap gulita. Dan badai pun datang menyerang. Melalui kaca jendelanya, Hopkins menyaksikan sendiri udara menyala merah (pamanbuaya : karena debu Bulan terjadi efek Tyndall, disinari matahari dari kejauhan) dan segala sesuatu diterbangkan oleh amukan badai, termasuk peternakannya sendiri! (diceritakan bahwa badai datang dari timur, dan rumah Hopkins terhalang puncak bukit, karena rumahnya di sebelah barat puncak).
Beberapa saat kemudian badai mereda. Sesuatu yang mengerikan terjadi, jendela rumahnya pecah, dan pecahannya berhamburan ke arah luar! kertas-kertas pun beterbangan keluar. Lalu dia teringat apa yang diramalkan seorang pakar : ada kemungkinan setelah badai, atmosfir (udara) akan terlepas dari bumi untuk beberapa waktu. Tak lama kemudian Hopkins kesulitan bernafas, kedua telinganya mengeluarkan darah. Beruntung dia berhasil masuk ke perpustakaannya yang didesain serapat mungkin agar kedap suara, yang artinya kedap udara pula. Lalu keadaan kembali normal.

Bersambung, besok dilanjutinn. (ceritanya emang panjang sob!)

0 komentar:

Posting Komentar