Zaman

Selasa, 13 Desember 2011
Seorang guru yang merasa bahwa generasi muda masa kini tak menaruh perhatian terhadap sastra domestik yang bermutu, suatu ketika berseru kepada sekalian murid :
"Siapa bisa menyerukan suatu kutipan dari karya sastrawan Indonesia terkemuka, kuganjar ia dengan hadiah setimpal!"
Sejanak hening. Lantas sekonyong-konyong berdirilah seorang murid di pojok kelas. Bertutur lantang,
Kalau mati, dengan berani; kalau hidup, dengan berani. Kalau keberanian tidak ada, itulah sebabnya setiap bangsa asing bisa jajah kita!! Pramoedya Ananta Toer.”
Wajah Sang Guru sumringah, "Kemarilah nak, Bapak tak segan-segan menghadiahi anak muda yang teringat kata-kata Pramoedya. Yang kau ucapkan tadi itu dalam betul maknanya. Inilah, di kantong Bapak cuma ada dua puluh ribu. Sini, ambil".
Si Murid masih berdiri, menggigit bibir bawahnya, lalu berkatalah ia,
"Apabila seseorang diupah karena apa yang ia ucapkan, adakah kita masih sezaman dengan saat orang ditangkap karena ucapannya?"
Sang Guru menatap mejanya, tangannya gemetar membalik halaman buku. Hatinya bersyukur. Uang dua puluh ribu itu sejatinya untuk beli makan!

3 komentar:

Andaka Pramadya Says:
13 Desember 2011 18.16

widiw blog ini mantaab

lombokguide Says:
13 Desember 2011 18.17

“Kalau mati, dengan berani; kalau hidup, dengan berani. Kalau keberanian tidak ada, itulah sebabnya setiap bangsa asing bisa jajah kita!!

Keberanian dan ketegasan sepertinya sudah agak sedikit memudar buktinya negara serumpun negara tetangga masih saja membuat ulah.

Salam kenal brother "paman buaya" :) dari blogger amatiran lombok 7og4nk. saya follow disini

Paman Buaya Says:
13 Desember 2011 18.29

@Andaka : Terima kasih :) Saya penulis amatiran
@Lombokguide : Setuju sekali... apa kabar Lombok? :) Terima kasih, nanti saya follback

Posting Komentar